Monday, 21 March 2011

yang terkasih

kamu mengajarkanku tentang arti sebuah kesabaran,
dan kau mampu membuatku sabar untuk menanti kebahagiaan
kamu itu tetap kamu yang dulu
yang mampu mengukir seutas senyum di bibirku

kamu bimbing aku untuk bermimpi
kamu temaniku dalam menanti
aku ingin kamu yang dulu
yang selalu setia hadir dalam tidur lelapku

aku yang terdiam,
menanti hadirmu kasih
aku yang terlelap
dalam penantian ini
tak lelah aku mencari 
di mana sosok yang kurindukan, 
kau yang terkasih,

dia

Maulana Izatullah, (Lhokseumawe)


mencintaimu aku bahagia,
memilikimu aku sempurna, 
kau yang kupuja telah bersamanya kini,


aku ingin lari jauh, mengubur semua mimpi yang telah usang
aku ingin mengumpat agar tak lagi dapat kau temukan diriku


dapatkah kamu merasakan jeritan hati ini kekasih?

Setahun Kemarin

pernah aku mengungkap tanya siapa penghianat hati ini, 
pernah aku mengusir ragu siapa penghuni hati ini,
entah dia yang ada disana yang masih setia bersemayam,
atau entah dia yang disini yang selalu hadir dalam setiap senyuman,


kadang aku ingin mengeluh,
namun bimbang yang kurasakan kini,

terdiam aku bukannya tak peduli
aku tak ingin semakin terluka,
terpaku aku bukannya takut
aku tak ingin terlalu jatuh

aku mencintaimu
namun itu setahun kemarin...