Friday, 9 December 2011

Maafkan Aku Sobat :)

Wanita ini sahabatku (kanan), kadang berubah menjadi fashion stylish untukku. Ya dia serba bisa, namanya Revina Elriza Riska Delimar. Aku mengaguminya, ia gadis cantik, periang dan juga  pintar. Darinya aku belajar banyak hal. Tentang arti sabar khususnya. Belum ada celah tentangnya. Satu kebiasaan tentang ku, saat di kamar bersamanya -kamar kost-, dia yang sama sekali tak pernah untuk tidur larut, aku mengganggunya. Kadang kuajak bercerita, kuajak melihat foto-foto, majalah atau pun membaca buku, dan kadang juga kami mendiskusikan tugas, semua aku lakukan agar dia mampu menemaniku, walau kadang kulihat matanya telah layu, ingin segera kepelabuhan mimpinya, maaf ya ^_^.
Hari ini mungkin mampu kusebutnya kabar duka. Aku seperti dicekik di tengah padang pasir. Ya, aku tahu ini bukan kehendakku, tapi aku rasa semua ini salahku. Aku membiarkan seseorang mengenalku, walau tidak baik, tapi kami cukup dekat. Aku juga membiarkannya memberikan penilaian subjektif terhadap kami, dengan kata lain, mungkin kami sesekali dibanding-bandingkan antara satu sama lain. Tapi sungguh aku tak mengharapkan akan terjadi hal-hal seperti ini, aku harap kamu tau siapa aku.

Aku sangat berharap tak ada kesalahpahaman antara kami. Dada ini sesak, rasa tak enak padanya perlahan-lahan menyeruak ingin keluar. Aku hanya mampu tertunduk. Aku sadar dia lebih pandai, mampu berfikir lebih cepat, dan kesempurnaan logika yang kuat. Buatku wanita ini sempurna, tapi aku tak mampu menjadi dirinya, aku juga tak ingin menjadi dirinya, aku hanya ingin menjadi sahabatnya. Aku tak mampu menjadi lebih baik darinya. Kawan, maafkan aku. Aku harap ini kesubyektifan terakhir yang kita alami. Aku mau mendampingimu untuk menelannya mentah-mentah. 

Ya, aku tahu kau jenuh, karena inbox-mu penuh dengan kata maaf. Itu tulus dari hati, aku harap tak ada hal-hal buruk yang menghantuimu lagi. Padahal kamu yang mengajariku tak membencinya, kini kamu membencinya. Aku seperti seorang munafik (nauzubillahiminzalik) saat kukatakan aku membencinya, tak lama aku dekat dengannya. Maaf kawan, aku hanya mencoba untuk fleksibel, seperti layaknya kamu. Hal-hal yang mampu kucontoh darimu akan kucontoh perlahan, berharap menjadi orang yang disenangkan layaknya kamu. Maaf atas kesalahpahaman ini.. :)


No comments:

Post a Comment