Thursday, 8 December 2011

pagiku

Hampir satu bulan, ya hampir tiga puluh hari nomornya menghiasi inbox-ku. Kini aku hanya mampu melihat gamang alat telekomunikasi tersebut.
Terbesit rindu yang menghantui, rindu yang tak pernah hadir, saat ia masih menemaniku merangkai hari.  
Bibirku naik saat melihat ponsel itu, teringat saat ia sedang gencar-gencarnya menghubungiku. Seperti atlet jemariku menari indah di atas layar ponsel. Kini, mataku yang menari-nari menatapi namanya di phone book-ku. 
Ah, hampir gila aku dibuatnya. Untuk apa datang, kalau saat ini ia pun akan pergi menghilang tanpa kabar. Aku bosan dipermainkan. Pikiranku menjadi buruk tentangnya, "Ya, dia cuma memanfaatkanku," gumamku. Kenapa harrus aku? Kenapa tidak dia? Mereka? Aku membencinya.
Namanya lagi-lagi menyeruak dipikiranku, aku ingin berteriak kencang agar tak ada lagi beban di hati. "Tuhan, musnahkan dia dari otakku,".
Siang ini dia datang terlambat, 30 menit dari jam yang seharusnya. Tanpa peduli dia langsung berlalu ke belakang dan mengambil posisi tepat di belakangku. Aku tak sedikit pun menoleh padanya. Ahhhhhh, ingin kucabik mukanya. Tanpa beban dan merasa bersalah nampaknya dia tak memperdulikanku. Amarah kembali berkecamuk di hati. 
Aku segera berjalan cepat, lebih mirip dibilang berlari kecil sepertinya, ya tujuanku menghindar darinya. Tapi rasanya gagal, langkah kakinya melebihi kecepatanku. Matanya menatapku, mungkin dia kebingungan dengan tingkahku yang mendadak aneh padanya. Semakin kesal saja kumenatapnya. Aku pun berlalu tanpa lagi memperdulikannya. 
Hujan menyambutku, membawaku kembali pada satu rasa sebelum kumengenalnya. Mungkin ini yang baik, aku memang tak harus mengenalnya, dan aku pun bisa tak mengenalnya. Aku menyebutnya 'Pagiku' ya, dia hanya pagi, yang mampu bersinar saat mentari hadir, dan tak lagi menemani saat bulan menyapa.

dearest : pagiku

1 comment: