Sunday, 11 November 2012

sahabat (begitulah kusebut)


kami sahabat tanpa ada kata sepakat sebelumnya, ada kisah yang pernah terajut pada awalnya. kesamaan yang pernah menyatukan kita, entah kini masih atau sebaliknya. 
ah, harusnya kuperkenalkan dulu siapa saja mereka. 
(ki-ka) itu aku (rustin)revinariskarissa (acil). mereka teman seperjuangan semasa kuliah, ya sampai saat ini sejak awal kami menjejakkan kaki di kampus tercinta. 
ini adalah kisah bahagia tentang kami penciptanya. senyum-senyum itu selalu 'kan terkenang di hati yang dalam. 

Friday, 21 September 2012

kamu, yang kunamai rindu

aku menamainya rindu
walau datang tak tentu
namun hati selalu menunggu

semua orang ramai-ramai menduga, melihat cinta yang hampir bersama. itu semua bukan sekedar harap, tapi begitu adanya. sesaat aku ingin kembali, merengkuhnya dalam kehangatan. namun waktu berhenti tuk ijinkan. 

aku takut memanggil namanya yang selalu beriringan dengan kata rindu di belakang. hampir sekian pekan kami tak bercerita. hanya lewat gambar kami bertukar kabar. 

melepasmu adalah hal yang paling kubenci, walau cinta tak harus memiliki. aku hanya mengikuti apa yang kau inginkan. bahagiaku bila mampu kunikmati surga menggantung di ujung bibirmu. 

tahukah kamu? otakku tersesat dalam ruangnya sendiri, berhenti dalam berfikir, aku kehilangan arah. 

tahukah kamu? aku selalu menantimu, memalingkan pandangan ke arah jalanmu, tapi yang kutemukan angin yang membawa kegersangan. saat itu, aku sadar aku merindukanmu. bahkan sangat. 

Sunday, 9 September 2012

entah apa harus kusebut (rindu)


alunan musik mendayu, mengisi ruang yang tengah kosong. tak ada hal lain yang aku punya selain rindu, begitupun kata. aku telah jatuh miskin, yang mampu kuingat, yang mampu kurasa hanya sebongkah rindu. rindu yang tak lagi bertuan. rindu hanya mampu kurasakan, tanpa tahu apa kamu juga. 
kalau saja semua yang pernah kurasakan dinamakan cinta, aku menyesal baru mengetahuinya sekarang. kebahagiaan yang pernah kita tuai tiap harinya kini hilang tanpa buih yang membekas. 
tak ada lagi tawa ataupun senyuman yang mengisi, hanya ada kepiluan, kehampaan. kucoba membuka mata, menikmati hawa yang tengah mencekik hangat. aku tersungkur karena rindu, tak lagi biarkan kita menyatu. 
sekian waktu aku mencoba mengejarmu, tak kudapati walau hanya bayangmu. rusak, patah, tak lagi terbentuk hanya hati yang masih utuh, mencintaimu. 

Thursday, 5 July 2012

kamu


aku tersenyum, menikmati sebuah rasa yang sangat indah. perasaan yang mampu membolak-balikkan hati, perasaan yang.. ah tak sanggup aku lukiskan dengan kata-kata. banyak orang yang menafsirkannya cinta, aku tak pernah peduli apa namanya, aku menyebutnya rasa.
seorang pria yang pernah kukenal dulu di sebuah majlis ta'lim yang kini masih mampu menetap di pelupuk mataku. sebut saja namanya amar. walau wajahnya menarik, namun bukan itu satu-satunya yang kukagumi, aku sangat mengagumi kepribadiannya. 
hampir tiga tahun aku mengenalnya, namun hanya beradu pandang yang terajut indah. tidak ada sapaan manis, tidak ada sentuhan lembut, terlebih berdampingan bersama. semua mampu tertepis oleh tatapan hangat yang berbalas, untukku itu adalah kebahagiaan. 
aku bukanlah gadis-gadis muda yang selalu berharap penuh ia ada digenggaman, memadu kasih saat bulan menjelang, atau mentari tenggelam. aku hanya ingin menikmati tatapannya, bukan berarti memilikinya. 
***
di sana, di masjid yang berada di lingkunganku, aku mencoba mencari sepasang mata diantara ribuan mata yang memenuhi lapangan masjid. berlomba-lomba mencari-cari mana yang mereka kagumi, bukan ini bukan tempat mencari jodoh, namun disana ada pekan perayaan isra mi'raj. banyak yang menanti perwakilannya menampilkan kreasi yang sungguh menarik, shalawat, puisi, tari islami, marawis, banyak yang lainnya. namun yang kutunggu sepasang mata itu, ya anggaplah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. 

Friday, 22 June 2012

aku dan (tanpa) kau = pilihan

aku tak meyakininya sebagai sebuah kedatangan. kepergiannya satu tahun lalu, tak membuatku kembali membayanginya ada bersamaku, walau ia berusaha mengadakan dirinya dihadapanku, ah... untukku percuma.

ia merayuku manja, menghadirkan tawa diantara kita namun sayang semua belum kembali, ya kecuali raganya yang untuk saat itu tengah membayangi langkahku. 

Assalamualaikum, 
apa kabarmu? aku kehilangan nomor kontakmu, bisakah kau mengirimkannya kembali?

e-mail itu yang kembali menemukan kita, aku berhak untuk tak memberikannya. namun, aku juga tak punya hak untuk merahasiakannya. aku yang membuka kembali pintu pertemuan itu, andai saja aku boleh menyesalinya di awal, sepertinya akan lebih baik.

Thursday, 31 May 2012

curhat (lagi)

tiba-tiba aja, ada yang bilang aku berubah. "sepertinya tidak." dua kata untukku cukup mewakili jawabanku. pesan singkat namanya, tak perlu panjang lebar untuk kuungkapkan apa yang seharusnya. sesuai konten, aku memakainya, ini sekenanya, bukan begitu makna layanan pesan singkat di setiap telepon seluler? 
anggap saja ini curhatan, tapi ya memang begitu adanya. mau disimak monggo, mau di skip juga monggo... 
tapi untukku sahabat adalah seseorang yang tak kembali hanya saat ia ingin kembali bukan? sahabat adalah hubungan antara dua makhluk, sama-sama membutuhkan, bukan untuk memanfaatkan. mengerti satu sama lain memang kuncinya, tak melulu hanya kamu yang ingin di mengerti. sahabat adalah kami, bukan lagi kau dan aku. 
ah, apa dan siapa itu sahabat aku pun belum paham betul, tapi aku tak mampu menyebutnya seorang sahabat, ketika ia kembali namun tak mengetahui apa alasan ia pernah pergi. aku sahabatmu, tapi bukan sekadar tempat persinggahanmu. kecewa? ya memang, sahabat boleh merasa kecewa bukan? :) 

Sunday, 13 May 2012

rindu

malam telah menyapa dalam ranumnya bibirmu. senyap, walau dalam keramaian. matamu kosong membelalak diantara ruang yang dihuni ratusan manusia ini. aku hanya menatapnya dari jauh, mendekatinya pun tak mungkin rasanya. 

wanita cantik itu adalah wanita yang paling kucintai, istriku. walau telah satu bulan kutinggalkan, kecantikannya tak memudar sedikitpun, meskipun air mata sesekali melintas di pipinya yang merona. 
"Ah, aku rindu mengecup pipinya itu," gumamku.

Thursday, 3 May 2012

sebuah nama, sebuah cerita

hampir tiga tahun lalu, kami sempat duduk bersama, tersenyum bersama, bahkan juga tertawa bersama. memandang lurus ke depan, penuh harapan dalam menggapai cita. 

"Remaja Islam Al-Mubahah, sepertinya itu cocok jadi nama organisasi kita," seseorang dari kami menyerukan hal itu. 
"Artinya?" tanyaku polos.
"Al-Mubahah itu artinya kebanggaan. kita semua yang disini kan berharap bisa jadi kebanggaan, baik orang tua maupun masyarakat lingkungan ini kan?" 

berjuta harapan kami lambungkan ke angkasa, berharap langit mendengar riuh doa kami saat itu. 20 Mei 2009 menjadi awal jejak langkah kami. hampir dua tahun berlalu semua pun terlihat sempurna, tanpa celah sama sekali. kami semakin membusungkan dada, tidak ada satu pun event islami kami lewatkan, PHBI Isra Mi'raj sempurna kami lewati. namun tak selamanya kemujuran mengikuti kami yang telah dibutakan kesombongan. 

Monday, 30 April 2012

risalah - rahasia

gurauan ...

aku terlalu malu untuk mengatakan padanya tentang semua yang telah terjadi pada kami, aku hanya mampu menuliskannya, walau terkadang tulisan pun tak cukup menggambarkan keindahannya. satu kata untuk mengawalinya "SEMPURNA". kisah ini sangat sempurna untukku, bahkan dari awal kumenuliskannya, melepaskannya menjadi kata per kata, pipiku terus merona merah. aku bahagia. :)

senja mengurungku dalam ruang tak bertuan. dirimu masih terkepung pada satu masa bersama kenangan. aku disini menantimu melepaskanku, memintaku menuai cinta bersamamu. "jangan terlalu lama," pintaku, namun kau hanya memberikan senyumanmu seraya melepaskan ikatan ditanganmu sendiri. 

"Ini sulit, aku telah mencobanya ratusan kali setiap hari. sabarlah, aku sedang berusaha." itu yang selalu kamu katakan kepadaku. melepaskan semua kenangan selama empat tahun tak mudah, namun aku yakin kau selalu berusaha melepasnya, untukku. 

Thursday, 26 April 2012

lalu

ada kalanya gundah merajai hati, kebimbangan, keraguan, bahkan kerinduan... tak pelak membuatku tak berdaya, 
satu hal yang selalu ingin kuucapkan namun hanya mampu kusembunyikan dengan tanya yang menghiasi wajah, 
kata orang ini sebuah rahasia, namun aku rasakan tersiksa, 
adakah cinta menyadarinya? aku disini menanggung semua, semua tentang kita yang sulit tuk bersatu... 

aku meragu, pada sebuah dinding hitam, pekat, namun menyejukkan. entah apa aku merasakan nyaman padanya. dinding itu telah memiliki coretan, lebih banyak dari coretan di dindingku. 
aku menatapnya, perlahan menelisik diantara coretan-coretan itu. satu tulisan yang membuatku ingin mendekatinya, menyentuhnya, dan berbahagia di dalamnya. ada dua bait yang tertulis rapi, tulisan tangannya.


kalau saja aku mampu tersenyum
tidak lain adalah karenamu. Anna-


hatiku berdetak cepat, ada sekelumat rasa haru bercampur malu. namaku ternyata pernah menjadi penghias dindingnya, apakah sampai sekarang masih? ah... harusnya aku tak bertanya hal itu. 


Monday, 20 February 2012

Manifestasi Sajak Sutardji Calzoum Bachri

Ada tiga faktor yang menjadi penyebab licentia poetica digunakan oleh penyair, menurut Atmazaki (1993: 70-72) yaitu, 1. Pada dasarnya penyair menyampaikan pengalaman puitiknya, pengalaman puitik tersebut lebih banyak berhubungan dengan emosi dan intuisi daripada rasio, ilmu dan ilmiah. 2. Karena pengucapan non puisi maka berbagai unsur yang menurut penyair mengganggu pengucapan puitiknya akan dihilangkan atau dibuang, 3. Seorang sastrawan (penyair) adalah orang yang mampu menggunakan bahasa untuk tujuan tertentu.
Rasanya ini yang menjadi salah satu dasar yang melatar belakangi Sutardji Calzoum Bachri melepaskan diri dari kesepakatan sastrawan umumnya. Melepaskan kata dari beban makna.
Kata-kata digunakan Sutardji seolah-olah bukan untuk menyampaikan sesuatu agar diketahui oleh orang lain. Sutardji tampak berdialog dengan diri sendiri melalui permainan kata-kata. Kata-Kata tetap digunakannya, namun bukanlah hanya sekadar sebagai pendukung imaji saja, namun Sutardji Calzoum Bachri kembali menggunakan fungsi kata seperti dalam mantra.

Wednesday, 15 February 2012

ketika semua berawal dari kegilaan

hari ini gue menggalau di TL. ini sih super duper gila. gue berjuang sama aktor lainnya... ini lah mereka Allan dan Silmi ...
check this out :d ini dia percakapan gue dengan dua orang gila itu
di klik ya gambarnya buat liat lebih jelas :)


 lanjut yukkk >>

Monday, 13 February 2012

will you?

untukmu yang ada di ujung dunia,
kali ini biarkan jiwa kita yang menyatu, bercerita
bergurau sambil berdendang
perasaan perlahan menyeruak keluar:
adakah kamu mencintaiku?

malam ini menyambut dingin,
cahaya kunang-kunang berpendar bergantian
kamu masih terdiam saat kupanggil sayang
tak biarkan mata mengucap segala keganjilan

Wednesday, 8 February 2012

curhat

Hati memaksa gue harus posting sesuatu hari ini! Entah kenapa, gue bingung. Ada satu kebimbangan yang tak pernah mampu diartikan oleh kata, bahkan hanya mampu dipahami oleh hati yaitu cinta. Cinta, gue ga lagi jatuh cinta, tapi perasaan gue masih tersimpan abadi, dan untuk gue ini adalah hari yang tepat. Tujuh tahun yang lalu, saat perasaan itu mulai gue rasain hanya ada satu yang selalu mengisi hati gue, yaitu namanya. Memang bukan nama yang bagus, tapi namanya cukup berarti. Selama tujuh tahun juga, gue coba jaga semua perasaan ini ke dia, entah dia sadari semua atau ga, gue tidak memedulikannya. Satu hal yang gue peduliin, yaitu semua tentang dia. Ga ada satupun momen tentang dia lepas atau hilang gitu aja dari ingatan, semua tersusun rapi juga indah. 

Gue ingat jelas, hari itu kami berteman, dari situ kami mengenal satu sama lain. Berbincang tentang berbagai hal yang kita sukai, tertawa bersama, saling  menatap, saling tersenyum, bahkan terkadang malu-malu. Di sudut kelas itu, sepasang mata yang bersembunyi dibalik kaca mencuri pandang kearahku, sampai terkadang tatapan kita pun saling beradu. Aku merindukan hal itu, apa kau juga?

Monday, 30 January 2012

selamat ulang tahun

Sahabat terbaik gue, Revina Elriza Riska Delimar nama indah untuknya yang terindah. Mungkin sebelumnya gue udah pernah post tentang dia, namun kali ini berbeda ini hari spesial untuknya.. Bukan.. bukan, dia belum mau merit tapi ini adalah hari ulang tahunnya. 

Gue ga bisa kasih apa-apa sama sahabat gue satu ini, tapi doa gue buat dia, insya Allah tetap mengalir untuknya tanpa berharap balasan. Tulus. 

Untukmu sahabatku, tetaplah tersenyum bersama malam, pagi, siang dan sore. Saat hujan atau panas menyelimuti. Tetaplah bahagia menanti asa datang menjemput, walau entah sampai kapan kau harus menunggu. 

Saturday, 28 January 2012

Taman Kelabu

Lagi dan lagi Pak Mirza Ghulam Ahmad meminta saya untuk mengubah puisinya menjadi sebuah cerpen.. Wah bapak yang satu ini benar-benar bisa buat saya memutar otak.
Buat semua pembaca, mungkin saya ga bisa kasih suatu hal yang sempurna, tapi coba dinikmati deh. Boleh kasih komentar, saran, atau apapun bentuknya, selama komentar itu bertujuan untuk membangun.


"Angsa Kecil di Taman Dekil" 

angsa putih begitu dekil
bermanja pada kasihnya di taman kecil
ratusan capung berenang di udara serasa terapung
menggoda genit ilalang yang mengandung
ilalang jalang pun lambaikan tangan katanya mumpung
manusia hanya berjalan tak peduli
walau mereka bertindak tak tau diri
lalu angin mencibir
dasar muda mudi

taman segitiga depan gereja

Thursday, 26 January 2012

Risalah Part I

Hujan menyambut perpisahan ini, entah ini perpisahan atau bukan namun ijinkan saya menyebutnya demikian. Dua  setengah tahun kini tersibak angin kencang. semua tak lagi mampu berpegang. Saling memandang dengan bimbang.

"Bubarkan saja. Untuk apa dipertahankan lagi? Toh memang sudah tak bisa dipertahankan." Suara itu memecahkan keheningan, mata itu memancarkan cahaya keyakinan. 

Sulit dipertahankan, kenyataan yang sulit diakui. Aku tak lagi memimpin kalian, bukan karena tidak ingin mencegah kehancuran itu, tapi aku tak mau lebih dalam menghancurkan kalian. 

Monday, 9 January 2012

wungu indriyati (filosofi sebuah nama)

Nama ini diberikan oleh dosen terbaik saya, teman diskusi dalam segala hal, Mirza Ghulam Ahmad yang memberikan semua filosofi terhadap sebuah kata "ungu"... thanks bapak, mari kita lanjutkan misi kita :))... 


next ... 


Dalam bahasa jawa, wungu dapat di artikan sebagai warna ungu. Lalu ada apa dengan warna ungu? Mengapa saya memilih wungu sebagai nama pena saya? Bukan tanpa alasan, seribu alasan sampai saya akhirnya memutuskan memilih nama itu menjadi nama depan nama pena saya.

Saturday, 7 January 2012

"Aku mencintaimu"

Jingga tak datang dengan tenang, 
langkah kaki yang sempat tertahan, 
menopang
Indah tapi tak terbayang…

Semburat kelabu menemani
Menyentuh lembut jemari
Merengkuh hangat,
menggelitik hati saat teringat…

Wajah tak terbias
Rona terpancar jelas
Senyum hangat menyeruak
“Aku mencintaimu” ia ikut teriak


rustin- 

Friday, 6 January 2012

Bintang Tak Berpeluk Bulan


Bintang Tak Berpeluk Bulan
Oleh : Rustin Woro Indriyati

“Saya terima nikah dan kawinnya Annisa binti Abdul Rozak dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai” ucap pria berpeci hitam.
“Sah?” tanya seorang petugas KUA.
“Sah…” suara saksi dan seluruh tamu undangan meramaikan suasana.
“Alhamdulillah…”
Sayu-sayu kudengar pujian syukur atas sah nikahnya, wanita yang selalu kucinta. Hari ini rasanya tak layak lagi aku memujanya, memujinya dan mengharapkannya. Rona indah yang pernah bersemayam di hati hilang tersapu kepedihan tanpa harus kuseka air di kelopak mata.
Bidadari nan cantik kini telah ada yang menjaga, mengikat dan memeluknya dengan erat, namun bukan aku. Parasnya yang menawan dengan senyum yang merekah menyambut ciuman mesra yang di daratkan tepat di keningnya. Oh, sebuah harapan walau hanya kumampu menggenggam tangannya.
“Astagfirullah…” ucapku sembari menyeka wajahku.
“Ada apa denganmu Amar? Apa yang kau impikan barusan?” tanya teman sekamarku di kost.
“Aku bermimpi tentang Annisa, Rif. Betapa anggunnya dia memakai gaun putih itu. Aku ingin meminangnya, aku ingin bersanding dengannya.” Ucapku dengan semangat.
“Apa masih terjalin komunikasi antara kau dengan dia setelah kalian memutuskan untuk berpisah?”
“Tidak… Namun aku tak ingin siapapun dapat memilikinya kecuali aku, Rif”
“Datangilah kalau itu maumu, sampaikan maksudmu kepadanya. Aku mendoakanmu selalu, Amar.”
***
Ditemani burung camar yang menari kekanan dan kekiri, aku menunggunya di bangku taman di depan sekolah, tempat ia mengajar. Bukan tanpa harap aku menantinya disini. Telah kupersiapkan sebuah cincin yang akan kusematkan pada jemari lentiknya. Sebuah pesan singkat kukirimkan padanya.

To : Annisa (+6285782600746)
Nisa, aku di bangku taman depan sekolah
Temui aku, ada yg perlu kubicarakan.
Amar.

Kutundukan wajahku, merangkai kata demi kata yang akan kuuntaikan padanya. Ribuan asa menggelayut dipikiranku. Inginku percepat waktu agar tak lagi aku alami ketakutan untuk mengucapkannya.
“Assalamualaikum,” sebuah suara lembut menyapaku halus.
“Waalaikumsalam, Nisa…” aku menatapnya, inikah bidadari yang Tuhan ciptakan untukku?
“Ada apa kau mencariku, Amar?” ucapnya lalu duduk di sebelahku.
“Ada satu hal yang ingin aku ucapkan padamu Nisa, aku ingin menebus semua kesalahanku dua bulan lalu. Apakah kau sudi untuk mendengarnya Nisa?”
“Insya Allah, akan aku dengar setiap kata yang akan kau ucapkan.”
Bismillah… ucapku dalam hati, “Nisa, dua tahun kita sempat bersama dalam suka cita, kau membawa aku pada sebuah kebahagiaan yang terukir nyata. Menghidupkan lilin kehidupan, mendampingiku saat aku lengah dan menopangku saat aku hampir tak berdaya untuk berdiri. Nisa, aku ingin kamu tersenyum bersamaku dalam menyambut pagi, menggelar sajadah bersamaku saat malam hadir, dan kini ijinkan aku menyematkan janji setia abadi untukmu yang akan mendampingiku. Annisa Eka Putri, maukah kau menikah denganku?”
Annisa menatapku dalam, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir manisnya. Ia hanya tersenyum tanpa kutahu apa maksudnya.
“Nisa, jawablah, aku inginkan jawabanmu”
“Amar, pemuda yang pernah kucintai, bukan hati kalau tak mampu berubah, bukan manusia kalau tak memiliki khilaf, dan bukan aku bila tak salah. Pernah kunanti pinanganmu itu Amar, namun bukan saat ini, tapi kemarin saat kita masih bersama. Maafkan aku kini tak mampu menerima ikatan janji ini Amar.”
“Tapi kenapa Nisa? Apa bedanya saat ini dan kemarin?” ucapku penuh tanya.
“Aku tak bisa menjawabnya Amar. Aku pamit, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam…”
Bayangannya kian membias di hadapanku, terbawa oleh nyanyian semilir angin sore. Daun-daun berjatuhan, mengiringiku menemui peraduan. Hentakan kaki semakin menjauh, sejauh senja berganti malam.
***
“Dari mana saja kau? Sepuluh menit yang lalu, Annisa mencarimu. Ia menitipkan ini untukmu. Katanya, ini adalah jawaban atas pertanyaanmu.” ucap Syarif sambil menyerahkan titipan Annisa.
Aku menuju kamarku, wajahku mengeras, tegang bahkan teramat tegang. Seketika aku mampu merasakan ketakutan yang kini membuncah dalam kalbu, sebuah kekhawatiran. Tanpa sabar aku segera membuka titipan darinya itu. Di depan sampulnya tertulis, untuk Achmad Amar. Terbersit tanya mengiringi jari-jariku, rasa gundah perlahan menyelimuti tubuhku.
Tertulis jelas disampul belakang titipan itu “Semoga Allah SWT menghimpun yang terserak dari keduanya. Merakhmati dan memberkati keduanya. Meningkatkan kualitas keturunannya. Menjadi pembuka pintu rakhmat, sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi seluruh umat manusia”(Doa Rasulullah SAW kepada Fatimah Az-zahra saat menikah dengan Ali bin Abi Thalib). Kubuka titipan itu dan dengan jelas tertulis, Annisa Eka Putri (Putri pertama dari bapak Abdul Rozak) dengan Quraisy Muhammad (Putra Kedua dari bapak Fauzi Muhammad).
Anggukan manis buatku terpasung oleh asa, terbelenggu dalam sorotan mata yang menghakimi. Aku mampu berdiri tanpa luka, walau kurasa hampir tersayat nadi ini mengingatnya. Kini kusadari mengapa enggan untuknya tuk tengok aku, tanpa ragu lagi ia menari indah namun bukan bersamaku, tapi bersama lelaki yang telah dipilihnya.
Cahaya malam memasuki kisi-kisi jendela kamarku, kini bintang tak selalu mendampingi bulan, walau mereka pada keadaan yang sama.
“Terlalu manis untuknya mengucap semua, harusnya bukan ini yang terjadi, harusnya bukan ini yang kurasa, dan harusnya bukan ini yang kudapatkan. Hanya doa yang mampu kuberikan padanya, dan ia pun pasti bahagia walau tak bersamaku.” Ratapku dalam hati.
Semua yang pernah ada tak lagi mampu kuulang. Hanya sebuah harapan yang tersimpan. Walau hati ingin tetap bersamanya, namun raga tak mampu lagi mengiba. Terlalu indah darimu, sebuah kisah yang harus kututup dengan senyum luka bahagia. Kuletakan undangan pernikahan itu di sebelah fotoku bersamanya.
***

dearest pembaca setia, bila saja ada yang bilang ini "palsu", mana mungkin cerita ini diterbitkan di majalah kampus... :) ---> bintang tak berpeluk bulan - facebook