Friday, 6 January 2012

Bintang Tak Berpeluk Bulan


Bintang Tak Berpeluk Bulan
Oleh : Rustin Woro Indriyati

“Saya terima nikah dan kawinnya Annisa binti Abdul Rozak dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai” ucap pria berpeci hitam.
“Sah?” tanya seorang petugas KUA.
“Sah…” suara saksi dan seluruh tamu undangan meramaikan suasana.
“Alhamdulillah…”
Sayu-sayu kudengar pujian syukur atas sah nikahnya, wanita yang selalu kucinta. Hari ini rasanya tak layak lagi aku memujanya, memujinya dan mengharapkannya. Rona indah yang pernah bersemayam di hati hilang tersapu kepedihan tanpa harus kuseka air di kelopak mata.
Bidadari nan cantik kini telah ada yang menjaga, mengikat dan memeluknya dengan erat, namun bukan aku. Parasnya yang menawan dengan senyum yang merekah menyambut ciuman mesra yang di daratkan tepat di keningnya. Oh, sebuah harapan walau hanya kumampu menggenggam tangannya.
“Astagfirullah…” ucapku sembari menyeka wajahku.
“Ada apa denganmu Amar? Apa yang kau impikan barusan?” tanya teman sekamarku di kost.
“Aku bermimpi tentang Annisa, Rif. Betapa anggunnya dia memakai gaun putih itu. Aku ingin meminangnya, aku ingin bersanding dengannya.” Ucapku dengan semangat.
“Apa masih terjalin komunikasi antara kau dengan dia setelah kalian memutuskan untuk berpisah?”
“Tidak… Namun aku tak ingin siapapun dapat memilikinya kecuali aku, Rif”
“Datangilah kalau itu maumu, sampaikan maksudmu kepadanya. Aku mendoakanmu selalu, Amar.”
***
Ditemani burung camar yang menari kekanan dan kekiri, aku menunggunya di bangku taman di depan sekolah, tempat ia mengajar. Bukan tanpa harap aku menantinya disini. Telah kupersiapkan sebuah cincin yang akan kusematkan pada jemari lentiknya. Sebuah pesan singkat kukirimkan padanya.

To : Annisa (+6285782600746)
Nisa, aku di bangku taman depan sekolah
Temui aku, ada yg perlu kubicarakan.
Amar.

Kutundukan wajahku, merangkai kata demi kata yang akan kuuntaikan padanya. Ribuan asa menggelayut dipikiranku. Inginku percepat waktu agar tak lagi aku alami ketakutan untuk mengucapkannya.
“Assalamualaikum,” sebuah suara lembut menyapaku halus.
“Waalaikumsalam, Nisa…” aku menatapnya, inikah bidadari yang Tuhan ciptakan untukku?
“Ada apa kau mencariku, Amar?” ucapnya lalu duduk di sebelahku.
“Ada satu hal yang ingin aku ucapkan padamu Nisa, aku ingin menebus semua kesalahanku dua bulan lalu. Apakah kau sudi untuk mendengarnya Nisa?”
“Insya Allah, akan aku dengar setiap kata yang akan kau ucapkan.”
Bismillah… ucapku dalam hati, “Nisa, dua tahun kita sempat bersama dalam suka cita, kau membawa aku pada sebuah kebahagiaan yang terukir nyata. Menghidupkan lilin kehidupan, mendampingiku saat aku lengah dan menopangku saat aku hampir tak berdaya untuk berdiri. Nisa, aku ingin kamu tersenyum bersamaku dalam menyambut pagi, menggelar sajadah bersamaku saat malam hadir, dan kini ijinkan aku menyematkan janji setia abadi untukmu yang akan mendampingiku. Annisa Eka Putri, maukah kau menikah denganku?”
Annisa menatapku dalam, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir manisnya. Ia hanya tersenyum tanpa kutahu apa maksudnya.
“Nisa, jawablah, aku inginkan jawabanmu”
“Amar, pemuda yang pernah kucintai, bukan hati kalau tak mampu berubah, bukan manusia kalau tak memiliki khilaf, dan bukan aku bila tak salah. Pernah kunanti pinanganmu itu Amar, namun bukan saat ini, tapi kemarin saat kita masih bersama. Maafkan aku kini tak mampu menerima ikatan janji ini Amar.”
“Tapi kenapa Nisa? Apa bedanya saat ini dan kemarin?” ucapku penuh tanya.
“Aku tak bisa menjawabnya Amar. Aku pamit, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam…”
Bayangannya kian membias di hadapanku, terbawa oleh nyanyian semilir angin sore. Daun-daun berjatuhan, mengiringiku menemui peraduan. Hentakan kaki semakin menjauh, sejauh senja berganti malam.
***
“Dari mana saja kau? Sepuluh menit yang lalu, Annisa mencarimu. Ia menitipkan ini untukmu. Katanya, ini adalah jawaban atas pertanyaanmu.” ucap Syarif sambil menyerahkan titipan Annisa.
Aku menuju kamarku, wajahku mengeras, tegang bahkan teramat tegang. Seketika aku mampu merasakan ketakutan yang kini membuncah dalam kalbu, sebuah kekhawatiran. Tanpa sabar aku segera membuka titipan darinya itu. Di depan sampulnya tertulis, untuk Achmad Amar. Terbersit tanya mengiringi jari-jariku, rasa gundah perlahan menyelimuti tubuhku.
Tertulis jelas disampul belakang titipan itu “Semoga Allah SWT menghimpun yang terserak dari keduanya. Merakhmati dan memberkati keduanya. Meningkatkan kualitas keturunannya. Menjadi pembuka pintu rakhmat, sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi seluruh umat manusia”(Doa Rasulullah SAW kepada Fatimah Az-zahra saat menikah dengan Ali bin Abi Thalib). Kubuka titipan itu dan dengan jelas tertulis, Annisa Eka Putri (Putri pertama dari bapak Abdul Rozak) dengan Quraisy Muhammad (Putra Kedua dari bapak Fauzi Muhammad).
Anggukan manis buatku terpasung oleh asa, terbelenggu dalam sorotan mata yang menghakimi. Aku mampu berdiri tanpa luka, walau kurasa hampir tersayat nadi ini mengingatnya. Kini kusadari mengapa enggan untuknya tuk tengok aku, tanpa ragu lagi ia menari indah namun bukan bersamaku, tapi bersama lelaki yang telah dipilihnya.
Cahaya malam memasuki kisi-kisi jendela kamarku, kini bintang tak selalu mendampingi bulan, walau mereka pada keadaan yang sama.
“Terlalu manis untuknya mengucap semua, harusnya bukan ini yang terjadi, harusnya bukan ini yang kurasa, dan harusnya bukan ini yang kudapatkan. Hanya doa yang mampu kuberikan padanya, dan ia pun pasti bahagia walau tak bersamaku.” Ratapku dalam hati.
Semua yang pernah ada tak lagi mampu kuulang. Hanya sebuah harapan yang tersimpan. Walau hati ingin tetap bersamanya, namun raga tak mampu lagi mengiba. Terlalu indah darimu, sebuah kisah yang harus kututup dengan senyum luka bahagia. Kuletakan undangan pernikahan itu di sebelah fotoku bersamanya.
***

dearest pembaca setia, bila saja ada yang bilang ini "palsu", mana mungkin cerita ini diterbitkan di majalah kampus... :) ---> bintang tak berpeluk bulan - facebook

No comments:

Post a Comment