Thursday, 26 January 2012

Risalah Part I

Hujan menyambut perpisahan ini, entah ini perpisahan atau bukan namun ijinkan saya menyebutnya demikian. Dua  setengah tahun kini tersibak angin kencang. semua tak lagi mampu berpegang. Saling memandang dengan bimbang.

"Bubarkan saja. Untuk apa dipertahankan lagi? Toh memang sudah tak bisa dipertahankan." Suara itu memecahkan keheningan, mata itu memancarkan cahaya keyakinan. 

Sulit dipertahankan, kenyataan yang sulit diakui. Aku tak lagi memimpin kalian, bukan karena tidak ingin mencegah kehancuran itu, tapi aku tak mau lebih dalam menghancurkan kalian. 

Angin berhembus, menyambut hari yang kini malam. Mencium aroma kesedihan dari bilik mushola. Wajah-wajah yang dulu tersenyum kini tertekuk menahan kesedihan. Kebanggan itu tak lagi mampu digapai mau sekuat apapun dicari.

"Kami mencoba bertahan selama ini, tapi apa? Tidak ada perubahan bukan?" sosok lelaki itu kembali memecah keheningan. "Empat bulan menanti perubahan namun tak kunjung terlihat. Kami terlalu lelah, ijinkan kami sekarang beristirahat," tak lagi ada sorot kemarahan, hanya sebuah permohonan dari bibirnya. "Bukalah mata kalian, terlalu sulit untuk memperbaiki yang sudah ada sekarang, bisa apa lagi kita?"

Semua mata memandang, mengagguk-angguk tanda setuju. Aku terdiam, menimbang-nimbang. "Apa tidak ada cara lain?" aku berani membuka suara, semua mata menuju padaku. "Ya maksudku, apa tidak lebih baik mencoba memperbaikinya lagi? Tidak ada salahnya bukan? Kita harus melihat semua perjuangan kita, apa kita relakan semua berakhir sampai disini, apa ini bayaran yang pantas untuk semua perjuangan kita selama ini?"

Suasana berubah hening, justru ini yang paling kubenci. Hening tak mampu menjawab semua pertanyaan tentang kita, keadaan ini semakin menusuk dan menyayatku. Rinai hujan masih mempersatukan kami pada pertemuan ini, namun kami tak mampu memutuskan suatu hal. Semua mendadak beku, beku dalam ketakutan yang tak berujung.

Semua terkenang, namun apakah semua menjadi kenangan? 

1 comment: