Saturday, 28 January 2012

Taman Kelabu

Lagi dan lagi Pak Mirza Ghulam Ahmad meminta saya untuk mengubah puisinya menjadi sebuah cerpen.. Wah bapak yang satu ini benar-benar bisa buat saya memutar otak.
Buat semua pembaca, mungkin saya ga bisa kasih suatu hal yang sempurna, tapi coba dinikmati deh. Boleh kasih komentar, saran, atau apapun bentuknya, selama komentar itu bertujuan untuk membangun.


"Angsa Kecil di Taman Dekil" 

angsa putih begitu dekil
bermanja pada kasihnya di taman kecil
ratusan capung berenang di udara serasa terapung
menggoda genit ilalang yang mengandung
ilalang jalang pun lambaikan tangan katanya mumpung
manusia hanya berjalan tak peduli
walau mereka bertindak tak tau diri
lalu angin mencibir
dasar muda mudi

taman segitiga depan gereja


Taman Kelabu
Langit bergemuruh gelap, membawa angin kencang yang menyapu pinggiran kota. Dedaunan beterbangan menumpuk pada sungai di taman. Malam ini indah bak lukisan yang dipanjang, bintang-gemintang berebut menghias langit, mereka berlomba memperindah saat berjuta pasang mata menatap dengan kagum. Lonceng gereja berdentang kencang, menemani burung hantu yang masih setia berjaga.
Sepasang muda-mudi asik bergandengan menyisiri jalan setapak di taman. Tak peduli waktu menunjukkan pukul tiga malam. Tempat ibadah di seberang jalan pun diabakan. Rambut panjang wanita itu tersibak angin malam. Menampakkan wajahnya yang terbias cahaya lampu jalan. Namun sayang rona kecantikannya telah tertutup wajah lelaki yang kini tepat di hadapannya. Semua tenggelam dalam kehangatan malam. Menerbangkan semua asa yang sempat terpendam yang kini dibalut pesona indah satu malam.
Pria itu menatap kagum pada wanita cantik di hadapannya. Masih terus membelai lembut wajah itu, terkadang kecupan tak lupa di daratkannya. Waktu terus beranjak, pukul lima kini sudah. Cahaya matahari bersiap menampakkan cahaya, mereka beranjak dari duduknya, pria itu tak lupa memberikan sebuah amplop berisi beberapa lembar uang. Tatapan suka cita terpancar dari wajah keduanya.
Cerita indah itu bergulir tiap malam menjelang, walau berbeda semua satu dalam kemasan kisah. Meninakbobokan gejolak jiwa semata, semua mampu dibayar dengan cuma-cuma.
***
Kelabu awan menghias angkasa, bulir-bulir air perlahan membasahi tanah. Di bawah pohon mahoni mereka berlindung tertawa dalam satu payung, payung asmara. Tak ada rasa kesal, kebahagiaan justru semakin terpancar dibalik derasnya hujan. Ditemani kekasih mereka menuai cerita.
“Hei lihat, pelangi menyambut berhentinya hujan,” seorang gadis berjilbab hitam memecahkan kemesraan.
Semua mata memandang kagum, pelangi begitu indah. Satu persatu berjalan menuju danau di pinggir taman. Sepasang angsa putih menari indah membias sepasang muda-mudi yang berada di balik pohon besar, rasa penasaran muncul dalam benak namun berlalu dan tak lagi mengabaikan. Mata demi mata menatap nanar, menggumam tanda prihatin. Sayang, tak satupun suara itu mengganggu kemesraan keduanya, mereka makin asik bertukar bibir, mengecup penuh nafsu saat semua bersatu.
Taman seberang jalan, menjadi tempat memadu kasih setiap pasangan. Putik-putik bunga dandelion berterbangan tertiup semilir angin yang berhembus. Keindahan yang tak lagi indah, keindahan salah yang dinikmati pasangan yang haus kebahagiaan.
“Taman ini sudah tak lagi nyaman, bukan lagi untuk bersantai tapi untuk melancarkan birahi,” wanita itu berkata sinis pada teman di sampingnya. “Aku malu kalau harus terus menatap lama disini, cepat waktu pembaktian hampir mulai.” Gadis itu telah berlalu, berlari pelan menuju gereja di ujung jalan. Satu temannya hanya menggeleng, tersenyum miris pada lukisan nyata di taman kota.
Beberapa pasang mata lain mencoba mendekati pasangan yang dibuai asmara itu, berdehem memberi tanda kehadirannya. Pasangan itu hanya menatap marah, matanya tak memedulikan kedatangan pasangan lain, mereka kembali asik dalam kesukacitaan yang ditawarkan cinta. Tertawa yang kadang menjadi suara neraka untuk mereka yang mendengar. Tatapan penuh nafsu dipancarkan dari keduanya, tak lama bibir mereka kembali menyatu. Menjijikan untuk yang lain, namun mengasikan untuk mereka.
Taman ini menjadi tempat memadu kasih, bergandengan tangan tak lagi terelakan. Tertawa bersama dalam payungan senja sore.
Waktu telah berganti, saat malam menyelimuti berganti pagi yang menemani, semua disambut haru bunga dandelion, sepasang angsa, dan juga burung-burung yang setia menemani perjalanan hari. Tak mampu dibayar hanya mampu untuk dinikmati. Jangan salahkan taman yang telah memperindah kota, tudung kelabu berpancar dari tiap pendatang. Saat awan memancarkan sinar sendu tak ingin diganggu namun pandangan terus mengadu dengan bibir mereka yang hampir kelu karena sebagian dari mereka mencandu di taman itu.

1 comment:

  1. bagus.. Kata katanya penuh dgn makna. Lanjutkan

    ReplyDelete