Monday, 20 February 2012

Manifestasi Sajak Sutardji Calzoum Bachri

Ada tiga faktor yang menjadi penyebab licentia poetica digunakan oleh penyair, menurut Atmazaki (1993: 70-72) yaitu, 1. Pada dasarnya penyair menyampaikan pengalaman puitiknya, pengalaman puitik tersebut lebih banyak berhubungan dengan emosi dan intuisi daripada rasio, ilmu dan ilmiah. 2. Karena pengucapan non puisi maka berbagai unsur yang menurut penyair mengganggu pengucapan puitiknya akan dihilangkan atau dibuang, 3. Seorang sastrawan (penyair) adalah orang yang mampu menggunakan bahasa untuk tujuan tertentu.
Rasanya ini yang menjadi salah satu dasar yang melatar belakangi Sutardji Calzoum Bachri melepaskan diri dari kesepakatan sastrawan umumnya. Melepaskan kata dari beban makna.
Kata-kata digunakan Sutardji seolah-olah bukan untuk menyampaikan sesuatu agar diketahui oleh orang lain. Sutardji tampak berdialog dengan diri sendiri melalui permainan kata-kata. Kata-Kata tetap digunakannya, namun bukanlah hanya sekadar sebagai pendukung imaji saja, namun Sutardji Calzoum Bachri kembali menggunakan fungsi kata seperti dalam mantra.
Dalam buku kumpulan Sajak “O” Sutardji menyatakan bahwa sajak-sajaknya adalah mantra. Dimana seperti yang kita ketahui mantra adalah ucapan yang sukar untuk dipahami, dan memang mantra diucapkan bukan untuk dipahami.
Mantra merupakan alat untuk membujuk dunia misteri untuk (tidak) melakukan sesuatu terhadap manusia (tertentu). Sesuai dengan sifatnya ini, mantra memiliki dua aspek, yaitu aspek alam manusia dan aspek alam misteri. Dan sebagai alat untuk membujuk, mantra mengandung dua hal yang bertentangan: rayuan dan perintah. Permintaan yang merayu-rayu buasanya dicapai dengan pengucapan bahasa yang didapat melalui berbagai pengulangan.
Sajak-sajak Sutardji pada dasarnya mengandung dua hal. Kehidupan yang penuh dengan misteri, dan dalam hubungan kehidupan dengan berbagai pengulangan memberi kesan dunia misteri, sedangkan perintah berhubungan dengan pernyataan kehadiran sesuatu. Akan tetapi meskipun sajak-sajak Sutardji merupakan suatu misteri, tetap terasa ada sesuatu di dalamnya. Sutardji tampaknya menganggap bahwa dunia adalah suatu misteri yang tak mungkin ditembus oleh suatu pemikiran yang rasional, yang karena itu hanya dapat dirayu. Sebaliknya, manusia yang hidup dalam suasana misteri ini harus berusaha untuk menyatakan dirinya sendiri, sehingga ia dapat terlepas dari suasana itu, suasana yang meliputi kehidupannya, meskipun ia takkan selalu berhasil. Sajak Sutardji merupakan suatu usaha pernyataan diri seorang manusia: Sutardji Calzoum Bachri. 

No comments:

Post a Comment