Thursday, 26 April 2012

lalu

ada kalanya gundah merajai hati, kebimbangan, keraguan, bahkan kerinduan... tak pelak membuatku tak berdaya, 
satu hal yang selalu ingin kuucapkan namun hanya mampu kusembunyikan dengan tanya yang menghiasi wajah, 
kata orang ini sebuah rahasia, namun aku rasakan tersiksa, 
adakah cinta menyadarinya? aku disini menanggung semua, semua tentang kita yang sulit tuk bersatu... 

aku meragu, pada sebuah dinding hitam, pekat, namun menyejukkan. entah apa aku merasakan nyaman padanya. dinding itu telah memiliki coretan, lebih banyak dari coretan di dindingku. 
aku menatapnya, perlahan menelisik diantara coretan-coretan itu. satu tulisan yang membuatku ingin mendekatinya, menyentuhnya, dan berbahagia di dalamnya. ada dua bait yang tertulis rapi, tulisan tangannya.


kalau saja aku mampu tersenyum
tidak lain adalah karenamu. Anna-


hatiku berdetak cepat, ada sekelumat rasa haru bercampur malu. namaku ternyata pernah menjadi penghias dindingnya, apakah sampai sekarang masih? ah... harusnya aku tak bertanya hal itu. 



aku kembali menyisiri ruangan tak berjendela ini, di dalam lebih gelap, hanya ada siluet yang terpantul dari cahaya pintu masuk, namun aku tahu, hatimu selalu menuntunku dalam kegelapan. dua, tiga, langkah telah aku lakukan, ada sebuah coretan lain yang menarik perhatianku. tertulis dengan tinta ungu.


satu rasa telah terpatri kini. aku sempat tersungkur ragu akan semua.

kamu yang perlahan namun pasti, datang mengetuk tanpa ragu

terimalah bentangan tanganku, yang selalu menyambutmu hangat dalam pelukan

terimalah, aku menantimu. Anna-


rasa haru kini benar-benar membuncah. aku terdiam, menatap kosong coretan yang tertinggal. aku tak mampu menyentuhnya lebih dalam, maafkan aku. mataku kurasakan telah basah, air itu tanpa ragu menetes melewati pipiku. kalau saja aku tak membiarkannya terluka, kalau saja. 


"Anna, aku sadar, aku bukanlah pria impianmu, aku juga bukanlah sosok yang kamu kagumi, namun, satu hal yang benar dariku. aku mencintaimu tanpa tetapi, tanpa kenapa, dan selalu di akhiri titik." lelaki itu menatapku, tepat di kedua bola mataku. ia segera melanjutkan kata-katanya. "Anna, aku ingin mewujudkan mimpimu, yang telah menjadi harapanku," 
"Maafkan aku bila semua sikapku ternyata menjadikan harapan dalam hatimu. namun, tak pernah aku berniat melakukannya, aku yang kini ada di hadapanmu, hanya sebagai pantulan yang tak lebih dari apapun. Reyno, aku sengaja membuatmu mencintaiku, mengharapkanku, namun aku juga akan membiarkanmu terjatuh, terluka, dan hilang di kubur harapan semu."

matanya membelalak, tatapannya nanar. aku sempat dibuatnya takut. hanya gelengan lalu ia segera pergi meninggalkanku, sampai saat ini, ia belum kembali. 

aku tertunduk lesu, kakiku tak lagi mampu menopang tubuhku, aku tersungkur tanpa ada seseorang yang mencoba meraihku. sebuah coretan kecil hanya satu bait terbaca olehku. 

aku tak pernah menyesal telah mencintaimu, namun aku membenci caramu. 

"Reyno, aku belum sempat melanjutkan kata-katanya. ijinkanlah kini aku melanjutkannya, walau tak lagi kau dapat mendengarnya. Reyno, aku sempat membuatmu menjadi sebuah permainan dalam hidupku, namun seketika aku menyadarinya, aku telah terjerembab ke dalamnya. ke dalam sebuah permainan yang harusnya mampu aku pimpin, namun aku gagal. Reyno, kau mengajarkan aku arti sebuah kebahagiaan, kebahagiaan yang sederhana, kebahagiaan mencintaimu." 

No comments:

Post a Comment