Sunday, 13 May 2012

rindu

malam telah menyapa dalam ranumnya bibirmu. senyap, walau dalam keramaian. matamu kosong membelalak diantara ruang yang dihuni ratusan manusia ini. aku hanya menatapnya dari jauh, mendekatinya pun tak mungkin rasanya. 

wanita cantik itu adalah wanita yang paling kucintai, istriku. walau telah satu bulan kutinggalkan, kecantikannya tak memudar sedikitpun, meskipun air mata sesekali melintas di pipinya yang merona. 
"Ah, aku rindu mengecup pipinya itu," gumamku.

ia segera mencari, seakan mendengar gumamanku. ia menyeka secepat mungkin airmatanya, mencari, ya aku yakin ia mencoba mencariku. badannya memutar, matanya ikut mencuri ke sudut-sudut tempat ini. namun ia tidak berhasil mendapatkanku, ia menghembuskan napasnya, menunduk, dan kembali merenung. 
"Maafkan aku tak mampu berada disampingmu. sungguh aku pun merindukan setiap hembusan napas bersamamu. aku merindukan kebersamaan kita menyambut pagi, dengan segelas kopi dan kecupan hangatmu." hatiku mendesah, kegelisahan benar-benar memberi ruang rindu yang dalam.

"Al, kembalilah. aku sungguh merindukanmu." batinnya berteriak, aku sakit mendengar jeritan hatinya. Andai, ya andai saja aku mampu mengembalikannya pada waktu yang lebih baik. 

ia berjalan gontai, menyisiri jalan yang telah pekat. aku mengikuti dari belakang, tak terlalu dekat juga tak terlalu jauh. aku mengepalkan tanganku, aku takut tak mampu menahan rasa ingin menggenggam tangannya. aku masih hapal jalan-jalan setapak yang pernah kami lalui bersama bila ingin pulang. berlari-lari kecil, tertawa bersama, dan tanpa ragu aku memeluknya di bawah pohon depan rumah kami. rumah yang kami bangun dengan bongkahan-bongkahan kebahagiaan, yang kini hanya ia sendiri yang mendiaminya. 

"Maukah kau berjanji akan terus menemaniku menua bersama cinta kita?" katanya di pagi yang cerah itu. 
aku yang baru bangun, senyum tak kalah sumringah, menatapnya, menyentuh pipinya yang lembut, "Perlukah aku bersumpah bahwa aku akan menemanimu hingga waktu tak memberikan kesempatan lagi padaku?" aku menyeruput kopi yang selalu ia siapkan. "Kamu berawal dari hatiku, tumbuh disana, juga tinggal disana. tak kan kubiarkan kamu mati dihati yang lain, kamu paham?" tanyaku yang diiringi senyuman manis darinya.

hal itu selalu ia tanyakan setiap harinya, aku juga selalu menjawab hal yang sama, dan ia tak bosan mengatakan, "Aku mempercayaimu sayang, bagaimana aku tak percaya bila apa yang kau katakan kemarin itu masih sama dengan hari ini. aku percaya, bukan hanya hidupmu, namun mimpimu telah kau bangun bersamaku." 

mimpi tinggallah mimpi, harapan telah terkubur bersama tubuh yang tak lagi bernafas. aku tak mampu kembali mengulang semua jawaban atas pertanyaan yang tak bosan ia berikan. kopi pagiku selalu kubiarkan tanpa bisa kusentuh atau bahkan kuhirup aromanya. walau rasa rindu yang begitu dalam pada kami, namun bayangan tak ijinkan kami saling memeluk kembali kebahagiaan yang pernah kami pupuk dulu. walau hati kecilku menjerit, menyebut namanya di setiap waktu. 

2 comments:

  1. gila.. aku suka tulisan kamu..

    ReplyDelete
  2. makasih mas, alhamdulillah kalo ada yang suka :)

    ReplyDelete