Thursday, 5 July 2012

kamu


aku tersenyum, menikmati sebuah rasa yang sangat indah. perasaan yang mampu membolak-balikkan hati, perasaan yang.. ah tak sanggup aku lukiskan dengan kata-kata. banyak orang yang menafsirkannya cinta, aku tak pernah peduli apa namanya, aku menyebutnya rasa.
seorang pria yang pernah kukenal dulu di sebuah majlis ta'lim yang kini masih mampu menetap di pelupuk mataku. sebut saja namanya amar. walau wajahnya menarik, namun bukan itu satu-satunya yang kukagumi, aku sangat mengagumi kepribadiannya. 
hampir tiga tahun aku mengenalnya, namun hanya beradu pandang yang terajut indah. tidak ada sapaan manis, tidak ada sentuhan lembut, terlebih berdampingan bersama. semua mampu tertepis oleh tatapan hangat yang berbalas, untukku itu adalah kebahagiaan. 
aku bukanlah gadis-gadis muda yang selalu berharap penuh ia ada digenggaman, memadu kasih saat bulan menjelang, atau mentari tenggelam. aku hanya ingin menikmati tatapannya, bukan berarti memilikinya. 
***
di sana, di masjid yang berada di lingkunganku, aku mencoba mencari sepasang mata diantara ribuan mata yang memenuhi lapangan masjid. berlomba-lomba mencari-cari mana yang mereka kagumi, bukan ini bukan tempat mencari jodoh, namun disana ada pekan perayaan isra mi'raj. banyak yang menanti perwakilannya menampilkan kreasi yang sungguh menarik, shalawat, puisi, tari islami, marawis, banyak yang lainnya. namun yang kutunggu sepasang mata itu, ya anggaplah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. 
begitu indah semua yang telah diciptakan-Nya, bahkan setiap wujud dan rupa yang diciptakan tak pernah mengandung cela sedikitpun. begitupun dengan rasa yang Dia ciptakan khususnya untukku, aku bahagia, bersyukur karena mampu menikmati rasa yang begitu indah, rasa yang selalu membuatku tetap ingat pada-Nya. 
Tuhan, adakah waktu yang kan mempertemukan kami berdua lagi? aku bersujud pada-Mu, Engkaulah pemilik malam, pemilik cinta, pemilik segala yang ada di dunia, hanya pada-Mu ku berserah dan menyerahkannya. 
untukku tak ada awal dan tak ada akhir, namun yang kutahu semua berawal bersamamu, dan kuharap berakhirpun bersamamu. 
untukmu yang senantiasa mengukir senyum, aku tak ingin memilikinya, hanya sekadar menikmatinya. aku ingin selalu berada dalam dendang kebahagiaan bersamamu, walau semua hanya bias yang tak bisa nyata aku tuai.

No comments:

Post a Comment