Friday, 21 September 2012

kamu, yang kunamai rindu

aku menamainya rindu
walau datang tak tentu
namun hati selalu menunggu

semua orang ramai-ramai menduga, melihat cinta yang hampir bersama. itu semua bukan sekedar harap, tapi begitu adanya. sesaat aku ingin kembali, merengkuhnya dalam kehangatan. namun waktu berhenti tuk ijinkan. 

aku takut memanggil namanya yang selalu beriringan dengan kata rindu di belakang. hampir sekian pekan kami tak bercerita. hanya lewat gambar kami bertukar kabar. 

melepasmu adalah hal yang paling kubenci, walau cinta tak harus memiliki. aku hanya mengikuti apa yang kau inginkan. bahagiaku bila mampu kunikmati surga menggantung di ujung bibirmu. 

tahukah kamu? otakku tersesat dalam ruangnya sendiri, berhenti dalam berfikir, aku kehilangan arah. 

tahukah kamu? aku selalu menantimu, memalingkan pandangan ke arah jalanmu, tapi yang kutemukan angin yang membawa kegersangan. saat itu, aku sadar aku merindukanmu. bahkan sangat. 

Sunday, 9 September 2012

entah apa harus kusebut (rindu)


alunan musik mendayu, mengisi ruang yang tengah kosong. tak ada hal lain yang aku punya selain rindu, begitupun kata. aku telah jatuh miskin, yang mampu kuingat, yang mampu kurasa hanya sebongkah rindu. rindu yang tak lagi bertuan. rindu hanya mampu kurasakan, tanpa tahu apa kamu juga. 
kalau saja semua yang pernah kurasakan dinamakan cinta, aku menyesal baru mengetahuinya sekarang. kebahagiaan yang pernah kita tuai tiap harinya kini hilang tanpa buih yang membekas. 
tak ada lagi tawa ataupun senyuman yang mengisi, hanya ada kepiluan, kehampaan. kucoba membuka mata, menikmati hawa yang tengah mencekik hangat. aku tersungkur karena rindu, tak lagi biarkan kita menyatu. 
sekian waktu aku mencoba mengejarmu, tak kudapati walau hanya bayangmu. rusak, patah, tak lagi terbentuk hanya hati yang masih utuh, mencintaimu.