Sunday, 9 September 2012

entah apa harus kusebut (rindu)


alunan musik mendayu, mengisi ruang yang tengah kosong. tak ada hal lain yang aku punya selain rindu, begitupun kata. aku telah jatuh miskin, yang mampu kuingat, yang mampu kurasa hanya sebongkah rindu. rindu yang tak lagi bertuan. rindu hanya mampu kurasakan, tanpa tahu apa kamu juga. 
kalau saja semua yang pernah kurasakan dinamakan cinta, aku menyesal baru mengetahuinya sekarang. kebahagiaan yang pernah kita tuai tiap harinya kini hilang tanpa buih yang membekas. 
tak ada lagi tawa ataupun senyuman yang mengisi, hanya ada kepiluan, kehampaan. kucoba membuka mata, menikmati hawa yang tengah mencekik hangat. aku tersungkur karena rindu, tak lagi biarkan kita menyatu. 
sekian waktu aku mencoba mengejarmu, tak kudapati walau hanya bayangmu. rusak, patah, tak lagi terbentuk hanya hati yang masih utuh, mencintaimu. 


untukmu, aku ingin bercerita, tak peduli lagi kamu mendengar atau tidak.
ingatkah kau pernah bernyanyi saat aku bersedih?
merengkuh tubuhku yang mulai rapuh?
bahkan kau pernah tersedu saat kujauh..
namun apa kini masih? 

aku selalu ingin membuat kisah kita abadi, bahagia diakhir layaknya mimpi
tak pernah kuragu akan kita yang bertemu menjadi cinta
sayang, akhirnya semua harus berpisah
tak lagi ada cinta yang bersemi, hanya sendu yang mewarnai

tuan, bila suatu hari kau menemukanku lagi
jangan bilang kau mengenalku, 
tapi rasakan apakah rasa ini masih jadi milikmu
kalau saja masih, mungkin waktu tak ijinkan lagi bersatu

----

terkadang aku harus berdamai dengan waktu, melupakan apa yang telah menjadi perbedaan. aku mencoba tetap sama, walau tak begitu selayaknya. dinding ini terlalu besar memisahkan kita, cinta tak lagi mampu merobohkannya. 
dari sini aku tetap berharap, semoga engkau bahagia. walau tak lagi denganku, rasa ini masih untukmu. kelak cerita ini akan menjadi dongeng yang meninakbobokan anak cucuku. 


No comments:

Post a Comment