Tuesday, 31 December 2013

Aku dalam keakuan

Di tiap rintik hujan yang turun
Duka berubah perlahan
Menuju kegembiraan
Mencari keabadian
Tapi tak ada yang abadi, Tuan
Bahkan bila itu perihal rasa
Perihal cinta
Perihal pengharapan
Yang kerap dijadikan pijakan
Tuan, mereka telah hidup ribuan tahun lalu
Tak perlulah kauelukan
Tak terhitung berapa yang jatuh
Yang lupa; ringkih; dan terluka

Baliklah hatimu
Temukan dalam pikiranmu
Bukan dari aku
Itu telah tertanam bahkan sebelum semua diciptakan
PadaNya seharusnya kaukembalikan

Thursday, 12 December 2013

Belajar Cinta

Cinta hanya berupa rangkaian lima kata. Masalah apa maksudnya, rasanya semua manusia mampu mengartikannya masing-masing. Banyak yang juga bilang, cinta itu takarannya hati. Lalu, kalau begitu siapa mampu mengurai isi hati manusia?

Saya masih belum paham konsep cinta itu apa. Ada yang bilang, cinta itu tak seperti ilmu eksak. Tanpa perhitungan. Semua kembali ke hati (ya, lagi-lagi saya menemui kata hati di pendapat seseorang itu).

Seseorang yang lain berkata pada saya di suatu hari yang berbeda, katanya cinta itu dapat tumbuh walau tanpa sebab. Tanpa alasan. Tak seperti pohon yang hanya mampu tumbuh bila ada biji atau bibit yang ditanam atau tertanam dan mampu tumbuh bila ada pupuk, air, dan matahari yang menghidupinya. Cinta bukan seperti itu.

Saya hampir menyetujui sebuah pandangan yang saya terima kala itu. Tapi, tiba-tiba sesuatu terlintas dipikiran saya, saat sebuah dialog di sebuah ftv antara pasangan muda -yang saya lupa apa judulnya- terucap. "Kalau cinta, harus saling percaya. Harus juga mampu menerima satu sama lain..."

Tidak, percakapan itu tidak sampai sana. Saya memotongnya karena cukup sampai situ saja, telah mengganggu pikiran saya. Ya, kalau cinta mampu hidup tanpa alasan, tanpa sebab ataupun tanpa karena. Lalu di mana logikanya, bila kata 'harus' -dalam dialog di atas- tidak dikatakan sebagai alasan, sebab atau karena?

Apa benar cinta mampu hidup tanpa sebuah perhitungan? Tanpa sebuah rumus yang sebenarnya memiliki konsep kesamaan dari setiap pasangan yang meyakini cinta itu ada di bagian diri mereka? Dan apa cinta benar-benar tanpa alasan?

Kalau hati mampu dijadikan ukuran, maka sebenarnya cinta tak mampu diukur ke dalamannya, bukan? Siapa yang mampu mengukur dalamnya hati?

Alinea_tyn

Monday, 18 November 2013

Dearest my lovely mom

Dear ibuku sayang....
Bagaimanakah keadaanmu? Sudahkah warna warni langit ciptaan Tuhan kau nikmati lagi?

Hampir satu minggu telah kau lewati tanpa harus berbasah dengan air. Memakai dop mata saat tidur, menunggu matamu untuk ditetesi obat.
Bu, cepatlah sembuh, tak perlu kau khawatirkan tentang siapa yang akan berbelanja untuk hari ini. Tak perlu kau risaukan tentang apa yang akan dihidangkan di meja makan setiap hari, aku berusaha membantumu, perlahan belajar untuk menjadi wanita sepertimu.. bukankah kelak aku pun akan sepertimu?

Ibu, bila saja tersisa seribu permintaan yang bisa kupanjatkan kepada Tuhan, aku akan meminta namamu menjadi wakil sisa permintaanku. Agar Tuhan senantiasa menjagamu, hingga akhir hidupmu, tak hanya satu bulan di masa pemulihanmu.

Ibu, aku; bapak; kakak-kakak; cucu-cucu; senantiasa berdoa atas kesembuhanmu.

otin

Tuesday, 12 November 2013

Sekilas Cinta Bapak

Dear bapakku sayang,

Sepertinya memang tidak seperti perayaan besar, bahkan banyak orang tidak tahu apa bedanya hari ini dengan harihari sebelumnya. Namun, beberapa orang yang kukenal memeriahkan hari ini dengan lantunan doa dan ucapan selamat mereka kepada ayahnya. Pak, hari ini harimu, hari ayah.

Pak, ingatkah setiap pagi kau selalu membangunkanku dan menyediakan sarapan saat aku masih SD? Membantuku mengerjakan tugas matematika, membuat atlas bahkan membuat pidato untuk perlombaan?

Pak, ingatkah saat engkau mau disibukkan untuk selalu mengantarku saat aku berangkat sekolah saat SMP bahkan sampai setelah SMK?

Pak, bahkan saat aku training, setiap pagi bapak mengantarku ke bilangan Thamrin tempatku training? Bersedia bermacetmacetan hingga hitungan jam?

Setelah kuliah, engkau tak lupa mengantarku sampai tempat aku menunggu bus, menemaniku hingga datang busnya, bahkan menjemputku ditempat yang sama bila pulang terlalu larut. Menemani mencari bukubuku kuliah setiap semesternya sampai di Senen.

Pak, ingatkah kau yang menemani tidurku saat sakitku? Mengelus punggungku saat napasku hilang seketika? Mencarikan berbagai obat untuk kesembuhanku? Tak peduli kau lelah, kau tetap mengutamanku.

Pak, penyesalanku adalah membuatmu jatuh, membuatmu menahan rindu hingga membuatmu hampir lupa siapa aku. Masih kusesali walau kini kau beranjak membaik. Pak, jangan jatuh lagi, aku ingin kau mampu melawan semua sakitmu.

Pak, ingatkah saat hari wisudaku? Namaku dipanggil dan dinobatkan menjadi lulusan terbaik? Aku mengucap namamu bahkan di setiap langkahku menuju panggung. Dan betapa bahagianya saat kau menceritakan, engkau menghapal nomor mahasiswaku, dan meyakini bahwa nomor mahasiswa yang disebut si pembawa acara adalah milikku? Itu yang membuat momen itu menjadi spesial dan membahagiakan.

Pak, maaf bila hanya sedikit kebahagiaan yang baru mampu kuberikan, teruslah menyayangiku, teruslah sabar mendidikku, teruslah tersenyum untukku, semoga ada sedikit lagi kebahagiaan yang kelak mampu kuberikan untukmu.

Peluk & cium

Rustin -anakmu-

Wednesday, 30 October 2013

alinea - summer

bahagia.

entah dengan cara apa saya mampu melukiskan kebahagiaan, entah di langit, di rumah atau di kehidupan. saya hanya mampu melukiskannya di dalam pikiran. sesuatu yang sempat membuat wajah saya tak henti tersenyum bahkan terasa panas karena rona merah yang mulai bersemu di pipi. sampai saat ini. 

entah lakilaki jenis apa, dengan cepat ia mampu menggetarkan hati hingga kaki tak mampu berdiri. jatuh... cinta. 

saya jatuh, cinta. padanya lakilaki yang begitu saya puja. 

namanya "summer".
tiap malam saya merindukannya, awalnya saya duga seperti itu, tapi ternyata tiap waktu. tak peduli itu siang, atau pagi. 

tibatiba waktu berhenti. membuat saya hanya mengenal kata rindu dan cinta. 

waktu saya menjadi begitu padat. tawa dan canda senantiasa kita tukar bersama. siapa yang mau melewatkan kebahagiaan ini? dengan doa yang terus mengalir dan aamiin atas semua yang terpanjatkan. kepadatan yang membahagiakan bukan? tentu! saya bersyukur atas itu. 

baru kali ini saya mendapatkan kado sebesar ini. membuat saya bingung menaruhnya di mana. saya biarkan orangorang bergantian untuk berpandangan, menunjukkannya pada khalayak ramai, agar semua mampu melihat, bahwa saya sangat bahagia dengan hadiah seperti ini. 

summer, keberuntunganmu beralih kepada saya. saya seberuntung kamu. saya jatuh... cinta padamu. 


-alinea-

Saturday, 19 October 2013

Asumsi

Saya selalu bertanya siapa saya. Bahkan saya sendiri pun sulit untuk menjawabnya. Saya belum memahami siapa saya sebenarnya. Lalu apa yang dilakukan orang-orang di luaran yang selalu riuh bilang ini itu perihal saya? Entah siapa mereka? Apakah ia hati saya? Atau bahkan otak saya. Mampu menebak, menerka, dan membenarkan tentang apa yang telah mereka katakan. 

Sampai saat ini banyak sekali orang-orang yang 'lebih tahu' saya dibanding saya sendiri. Lalu, apa yang saya mampu lakukan?

Tertawa.

Perihal jatuh cinta, saya lebih bingung. Tidak ada yang mampu saya perbuat. Mengendalikan hati saya? Sulit. Saya hanya mampu menunggunya sampai rasa itu menerjemahkan sendiri.
Saya mudah jatuh cinta? Tidak. Jatuh cinta pun saya tidak tahu apa maksudnya. Saya gadis kecil yang masih mencari siapa cinta, apa cinta, dan untuk apa cinta.

Lalu?

Saya masih mencari.

Hidup perihal pencarian, tapi bukan untuk orang lain. Pencarian atas apa yang memang sedang saya cari. Dan untuk apa yang mereka cari, itu bukan lagi hal yang ingin saya ketahui. Sedikitpun.

Hidup saya cukup untuk saya. Selama saya mampu bertanggung jawab atas apa yang saya perbuat kepada Tuhan dan keluarga. Itu sudah cukup. 

Tuesday, 8 October 2013

5 okt '13

Sebelum lebih jauh memulai menulis cerita ini, saya ingin berteriak...
Aaaakkkk!!!! 
Akhirnya. 

Ya, akhirnya. Setelah empat tahun pulang pergi ke kampus, setelah ratusan hari pulang malam dan berangkat terlalu dini, saya mampu menyelesaikan semuanya tepat hari ini, Sabtu 5 Oktober 2013. 

Awalnya semua di luar rencana. Tak pernah menyangka saya harus wisuda hari ini seorang diri dari kelas saya. 

Iya, nama saya mewakili seluruh kelas. Tidak ada nama teman-teman saya yang lain, yang biasa bersama saat belajar selama empat tahun. Tidak ada yang bisa saya ajak berdiskusi perihal baju kebaya, sepatu, hijab, atau bahkan sekadar diskusi pukul berapa kita akan sampai sana saat GR ataupun wisuda. 

Dengan 1203 peserta wisuda yang lain, kami duduk dengan tenang di gedung sasono utomo, TMII. Acara dimulai pukul 8 pagi. Saya terpisah dengan bapak -orang tua sebagai undangan- dari tempat duduk yang hampir di belakang, acara yang begitu saya tunggu adalah pelantikan. Di acara itu, saya akan resmi menyandang gelar yang begitu saya nantikan. 

Monday, 16 September 2013

tahu aja belum cukup

Awalnya judul entri ini itu salah satu tulisan yang sempet ditulis tadi pagi. Tahu aja belum cukup. Apalagi untuk memahami seseorang. Bahkan seseorang yang kita kira sudah kita kenal baik, tapi ternyata sebenarnya kita tidak tahu apapun sama sekali tentang dia. 

Begitupun kini. Tentang seseorang yang kukenal. Awalnya kukira entah orang gila dari mana, punya mimpi dan cara bertutur yang tinggi. Ah, benar aku benar-benar menganggapnya gila. Ternyata justru aku yang gila. Hidup mereka bukanlah hidupku, bukan hidup yang sekedar hidup seperti aku. 

Seseorang yang akhirnya kuketahui dari sebuah link di google, yang kutahu lebih banyak dari yang seharusnya cukup kutahu. Hasilnya? Belum berbentuk, hanya sebuah kejutan dan 'Oooh' di setiap kata-kata yang kubaca, mungkin nanti menyesal karena mencari tahu apa yang seharusnya tidak aku tahu. Mungkin harusnya kucukupkan untuk sekedar tahu dan tidak mencari tahu. 

Friday, 16 August 2013

another post about, R

Masih dalam menunggu, menunggu waktu berhenti atau menunggu kamu kembali, dua-duanya memiliki kemungkinan yang sama, yaitu kemungkinan menyakitkan selalu ada. Hampir dua hari, kamu tak lagi mengirimkan pesan yang berisikan kerinduan berbumbu cinta. Namun, aku selalu menunggumu, tahukah? 

Entah ada di ujung dunia bagian mana tempatmu kini berada, tapi, doa senantiasa aku lantunkan. Tak peduli kamu ingin mendengar atau tidak. 

Sayang, sudahkah makan hari ini? 
Sudahkah shalat? 
Sudahkah kamu rindu padaku?
Dan sudahkah ingin kembali?

Apakah kamu benar akan kembali? Menemukan jalan pulang layaknya kamu menemukan jalan pergi? Aku hanya berharap kamu tak tersesat. Di sini, di tempat kamu meninggalkanku, aku menunggumu, menunggu masih dengan apa yang pernah kutawarkan dulu. Masih dengan harapan, kebahagiaan, cinta, ditambah kesedihan yang masih kurasakan. 

Cepatlah pulang, berikan alasan agarku mampu meyakini kamu adalah alasan mengapa kebahagiaan ada di dunia. 

rustin-

Wednesday, 14 August 2013

Dearest, R

Menunggu, apa ada hal lain yang mampu kulakukan selain itu? Sayangnya tidak.
Hampir setengah hari aku menunggunya, menunggu delivery report atas pesan yang kukirimkan padanya. Sudah hampir sembilan jam aku menunggunya, entah berapa jam lagi aku harus merasakan rasa gelisah, takut, dan rasa hampir kehilangan ini. Aku harap dia punya alasan yang mampu mengubur rasa kecewa ini semuanya.
R, entah apa maksud dari semua ini, bila saja kau ingin kupergi katakanlah. Apa aku pernah menolak permintaanmu?
Sembilan jam ini aku melakukan hal yang kubosan di hari yang sama. Meneleponmu, meninggalkan pesan. Meneleponmu, disambut operator. Mengirimkanmu pesan, tak juga ada yang terkirim. Semua berulang dan kuulang dengan sabar. Menunggu salah satu terkirim atau menunggu kabar darimu. Apa ada hal yang lebih menyakitkan dari ini?
Aku pikir cinta itu menyenangkan, membuat hatiku senang, dan selalu senyum yang ditawarkan. Oh, aku tak memikirkan resiko dari rindu, rindu yang kini menghukumku dan tak pernah membantuku untuk pindah dari luka hari ini.
Apa aku telah kehilanganmu? Entahlah, mungkin akan kudapatkan jawaban itu beberapa jam ke depan. Aku harap kamu mampu merasakan apa yang tengah kurasakan hari ini.
I Miss You So Much, R.



rustin-

Sunday, 11 August 2013

melupakan, melepaskan, meniadakan

Tiga kata yang saling berkaitan dan sedang kukaitkan. Menatap laki-laki yang ada di hadapanku, tak peduli betapa rasa ini sedang buncah. Aku segera menghapusnya dengan air mata sisa kemarin. Laki-laki yang sudah hilang rasa harap, kini hanya menatap lurus jalan hidupnya, tanpa rencana apapun. Sedang aku, berdiri mendampinginya, sesekali memegang erat jemarinya yang hampir kaku, tapi tak juga dipedulikan olehnya. Ia bisa sendiri, menghadapi semuanya sendirian, tanpa teman, tanpa aku. 

Tiap malam aku menimbang sebuah rencana dan kenangan bersamanya. Terlalu berat rencana ini, ia menang telak. Tak ada kenangan yang mampu membuatnya sebanding. Rencana ini menjulang di atas, sedangkan kenangan turun, tak lagi ada sisa. Ternyata, selama ini laki-laki itu hanya menciptakan luka yang mungkin baru saja aku sadari. 

Membuatmu pernah berarti dalam hidupku, menjadikanmu raja dalam mimpiku, dan membanggakanmu di setiap pasang mata, tak cukup membuatmu melambungkan terima kasih. Cinta membuatmu tinggi, membuatmu merasa semakin dibutuhkan. Padahal, bukankah cinta harus ada kata saling? Tapi kamu melakukannya seorang diri. 

Sebuah hal yang selama ini selalu diragukan. Mencintai membuat kita semakin sulit untuk melepaskan terlebih lagi melupakan. Meniadakan kisah yang lalu menjadi kenangan. Terbiasa dengan tawa dan duka yang disulap menjadi kebahagiaan yang senantiasa diyakini sebagai pendukung dari kelanggengan sebuah hubungan. Aku lelah dan terlalu lelah akan kisah yang selalu kamu sebagai tokohnya. Kali ini, aku mundur, menatapmu sebagai sebuah kenangan, hiasan yang pernah kupegang, dan kini kubiarkan menjadi pajangan yang tak lagi ingin kutatap dalam. 

Berakhir kata terakhir untukmu...

Thursday, 18 July 2013

JBOYFRIEND OF RUSTIN's DREAM

Dear bang Christian Simamora, 

Kali ini, aku akan curhat tentang lelaki impian yang begitu aku idamkan. Kalau keinginanku ini dapat dikatakan sempurna, ya mungkin memang benar, sempurna untukku. :) 

Laki-laki ini bukanlah laki-laki bertopeng pujaan usagi di sailor moon, bukan pula laki-laki berkuda pujaan cinderella. Tapi laki-laki ini adalah anak adam yang mampu membuatku gelisah di malam hari, mampu membuatku tak henti memikirkannya, dan tersenyum karenanya. 

Seorang laki-laki yang mungkin memiliki tubuh yang sehat (hihihi), tinggi, dan jago masak. Yak, seperti Jandro, laki-laki ini harus mampu membuaiku dengan setiap hidangan yang ia sajikan. Mencintaiku walau berat tubuhku naik 10kg karena masakannya yang memabukkan. 

Bukan hanya itu, laki-laki yang mencintai kerapihan, mulai dari pakaian, kamar, maupun tubuhnya. Laki-laki yang memiliki tubuh yang harum, yang membuatku semakin 'betah' dalam pelukannya, uuuhh... 

Laki-laki yang begitu mencintai dunia kepenulisan, mencintai tumpukan buku yang mengitarinya di tempat tidur, di ruang tamu, atau bahkan di meja kerjanya. Laki-laki yang mampu bertahan hanya dengan berdiam diri di toko buku atau perpustakaan. Laki-laki yang mampu menghabiskan tiga buku dalam sebulan dan menceritakannya dengan semangat yang tak padam walau hari telah malam. Seorang laki-laki yang mampu membuatku tetap sempurna, tetap membanggakanku di hadapan seluruh orang yang ia kenal. Mencintaiku tanpa keraguan, tanpa sebab, dan tanpa henti. Seorang laki-laki yang menyediakan pelukan saat kegelisahan melanda, menyediakan telinga saat aku ingin cerita. 

Bukan hanya itu, ini impianku yang begitu aku inginkan. Berhubung aku adalah seorang wanita yang sulit sekali tidur cepat dan lebih sering tidur larut malam, aku ingin laki-laki pujaanku adalah seseorang yang mau menghiburku, menemaniku hingga aku terlelap. Mendendangkan shalawat sebelumku tidur, mengucapkan janji setia saat aku mulai terlelap. Laki-laki yang mampu menjadi imam, mampu membaca al-quran dengan lancar, memimpinku meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Laki-laki yang mampu mengantarkanku ke gerbang surga, wanita yang dirindukan Tuhan. (ahh... ini sih pujaan banget). 

Mungkin dinner di sebuah fast food pun tak pernah jadi masalah bagiku. Selama dengan dirinya, kemanapun aku rela. Ia membuatku sadar bahwa memang ia yang menjadi objek yang begitu kunantikan dalam kebersamaan. Menepis rindu setiap senja, baik bersama atau hanya lewat telepon. Tak peduli berapa kilometer jarak yang memisahkan tetapi mampu menjaga kepercayaan. 

Sebuah dinner yang mungkin berakhir di toko buku atau di tempat makan lain. Tak perlu candle light dinner, tak perlu mawar, sebuah buku dan genggaman hangat cukup menggantikannya dan membuatku tak tidur di malam harinya (bukan karena insomnia, tapi karena bahagia, hihihi).

Ah, bang, sejak awal aku melukiskan seperti apa laki-laki ini, aku telah senyum-senyum sendiri. Membayangkan setiap kata yang kutuliskan benar aku alami, rasa-rasanya pipiku merona. Ah, aku jatuh cinta dengan laki-laki ini, semoga ia benar ada.

Agar Tuhan mendengar dan mengirimkan pria 'sempurna' yang sangat kuharapkan ini, ada satu hal lagi yang aku inginkan, maukah abang meng-aamiin-kan seluruh impianku? 


Peluk hangat, 
Rustin


Twitter: @rustinrustin
Email: rustin.indriyati@hotmail.com

Wednesday, 22 May 2013

kami tanpa dia

aku bukan gadis puitis, merangkai puisi hanya sebatas mimpi. aku tak pandai menyatukan kata dan memberikannya ruh. aku hanya gadis penikmat rindu yang kini tengah kehilangan (lagi). bukan, ini  bukan kisah tentang ef lelaki itu, ini kisah tentang sesuatu yang tak pernah kau harap pergi, tapi ia lepas. ini tentang, ah aku tak mau menyebutkan apa namanya, aku takut masih terlalu dini. 

tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran, kenapa harus jodoh bila ingin bersatu, entah siapa jodoh, sok berkuasa. padahal yang menentukan kebersamaan tetap Tuhan, kini jodoh sok ambil peran. peduli apa dia tentang kami yang merasa memiliki namun ternyata tak bersatu. ini bukan sebuah keterpurukan, hanya sebuah pertanyaan atas kami yang baru saja kehilangan. 

kenapa kami? ya, ini bukan perihal aku, tapi ada dua orang lain di belakangku yang merasakannya. kami sabar, kami menerima, tapi kami hanya berpura-pura. kami bukan gadis-gadis tegar, bukan gadis yang pandai menyembunyikan perasaan. saat terluka, air mengalir di sudut mata, itu sudah biasa. tak terkecuali saat ini.

Tuesday, 16 April 2013

last post about you, ef...

Some people are meant to fall in love with each other. But not meant to be together. - (500) Days of Summer
 
ef, denganmu aku belajar tentang arti sebuah kesempatan. Saat ini, aku berusaha memanfaatkan hidup. Entah apa yang ada di depan, tapi senantiasa aku syukuri. 

ef, darimu aku selalu belajar, hidup ini hanya punya satu kesempatan, yaitu hari ini. Bila kesempatan itu datang untuk kedua kalinya, itu keberuntungan namanya. Sedangkan kalau datang untuk yang selanjutnya itu bonus, namun tak semua manusia mampu merasakannya. 

Walau saat ini aku tengah menunggu bonus yang mungkin akan kamu berikan atau mungkin saja tidak. Namun aku juga tengah menjalani kehidupanku yang biasa. Aku punya satu cerita untukmu, ef, coba bacalah. 

Aku adalah aku, masih seseorang yang pernah kamu kenal dulu. Tak ada yang berubah, termasuk kegemaranku melewatkan sesuatu. Ah, Tuhan, betapa mudahnya untukku melewatkan semua hal itu. Kini, yang muncul adalah, apa aku harus mengejar atau melewatkannya begitu saja. 

Bukan hanya itu, kamu mengajarkanku tentang hal yang penting dan tidak. Aku harus mampu memilah mana yang memang untukku, mana yang aku butuhkan, bukan hanya aku inginkan. Sejeli itu aku harus menilai. 

ef, mungkin kamu tidak menyadari semua yang telah kau ajarkan untukku, namun aku mengingatnya dengan jelas. Kuhafal baik-baik, jika memang itu baik. 

Yang paling aku ingat, "jadilah perempuan mahal" katamu. Aku memahaminya tanpa luka. Itu nasihat tulus, kamu ingin aku menjadi baik-baik saja, dan aku sudah lakukan, bahkan sampai saat ini. Saran itu juga aku berikan ke beberapa sahabatku, thanks ef. 

ef, setelah tahunan aku menahan rindu, awalnya aku pikir rindu ini memang selamanya, abadi, kekal. Tapi sesuatu buatku terperangah, rindu ini menghilang begitu saja. Ketika melihat kamu melintas tak lagi ada rasa yang membuncah dalam hati, aku sempat mencari kemana rindu perginya. Tapi rasanya percuma, tak mampu aku temui di mana pun, di sela hatiku sekali pun. Mungkin rindu ini sudah terlalu tua, hingga mati sampai terkubur dengan harapan-harapan yang melambung. 

ef, dari situ aku menyadari, semua hanya sementara. Hanya sebuah permainan waktu, cepat atau tidak aku harus melepasnya. Melepas rindu yang mungkin tak layak aku miliki, mungkin harus orang lain yang aku rindui, tapi bukan kamu. 

ef, ini bukan sebuah perpisahan, hanya sebuah awal untukku memulai setelah tahunan hanya ada rindu atas namamu. ef... 

Wednesday, 27 March 2013

paket

Kemarin sebuah surat terlampir untukmu. Entah sampai atau tidak padamu, bukan JNE atau TIKI terlebih lagi POS apalagi DHL yang menyampaikannya. 

Tapi kali ini beda cerita. Ini sebuah cerita tentang paket yang hendak aku kirimkan, tentu saja untukmu. 

Hari ini aku kembali bingung, sungguh hati ingin segera mengirim paket ini. Ingin segera ketenangan di dapatkan, tapi aku kembali dilanda kebimbangan, dengan apa aku harus mengirimnya? 

Aku sempat mendatangi kantor-kantor yang mampu mengirimkan paket katanya. Sebelum mengirimnya, aku sangsi terhadap bungkusan yang orang berikan pada penjaganya. Apa yang harus aku bungkus? Bagaimana aku mampu membungkusnya? Bentuknya pun tak mampu aku lihat. 

Sunday, 24 March 2013

(ef) Kisah Penyesalan Tahunan


#now playing yovie nuno – seperti bintang, #next playing kahitna – hampir jadi,
#(klimaks) playing pasto – jujur aku tak sanggup #last playing adera - melewatkanmu

Untukmu, sahabatku dulu…

Ini kisah penyesalan tahunan (masih kuhitung, karena penyesalan menyesaki hingga kini)

Aku biasa memanggilmu ef dalam setiap update-ku. Mereka -kawan-kawanku- mengetahuinya, walau mereka tak tahu siapa yang kutuju atas ef yang mewakili inisial namamu.

ef, aku telah mempunyai dua kesempatan yang selalu aku lewatkan dengan baik. “Bodoh!” itu makianku setelah aku menyadarinya. Padahal kau diciptakan bukan untuk dilewatkan, aku saja yang lambat menyadarinya.

Entah Tuhan akan memberikan kesempatan ketiganya untukku atau tidak. Padahal banyak orang yang tak pernah mampu merasakan kesempatan kedua. Sedang aku?