Sunday, 24 March 2013

(ef) Kisah Penyesalan Tahunan


#now playing yovie nuno – seperti bintang, #next playing kahitna – hampir jadi,
#(klimaks) playing pasto – jujur aku tak sanggup #last playing adera - melewatkanmu

Untukmu, sahabatku dulu…

Ini kisah penyesalan tahunan (masih kuhitung, karena penyesalan menyesaki hingga kini)

Aku biasa memanggilmu ef dalam setiap update-ku. Mereka -kawan-kawanku- mengetahuinya, walau mereka tak tahu siapa yang kutuju atas ef yang mewakili inisial namamu.

ef, aku telah mempunyai dua kesempatan yang selalu aku lewatkan dengan baik. “Bodoh!” itu makianku setelah aku menyadarinya. Padahal kau diciptakan bukan untuk dilewatkan, aku saja yang lambat menyadarinya.

Entah Tuhan akan memberikan kesempatan ketiganya untukku atau tidak. Padahal banyak orang yang tak pernah mampu merasakan kesempatan kedua. Sedang aku?


ef, ingatkah kamu saat kita dulu menciptakan tawa dan bahagia? Yang lain kurasa akan iri. Kita duduk di belakang dengan tawa yang terdengar sampai ke depan. Habiskan waktu istirahat hanya untuk saling bertatap. Bertukar cerita tentang menu makanan favorit serta bertukar impian. Itu telah lama terlewat, namun ketika kuingat begitu membekas, apa hanya itu? Tidak, masih banyak yang tersimpan rapi di hati, setelah kucoba gali kembali.

Oh, apa kamu ingat tentang gadis salah sambungmu? Yang aku ingat saat itu dia mengaku dia sekolah di tempat yang sama denganku. Dia bertukar cerita tentang pengalamannya dengan menyelipkan namaku di antara cerita yang ia ciptakan. Iya, betul ef, dia itu aku. Dari situ aku tahu kau punya impian menjadi chef juga bukan?

Ada kisah yang juga sempat kita ciptakan bersama, tentunya tentang aku dan kamu. Saat itu komunikasi kita kembali terjalin, walau temu masih saja tak mau menghampiri. Tiap hari, ponselku selalu berdering, namamu selalu  memenuhi layar. Inbox selalu penuh akan cerita kita, terlebih panggilan keluar atau masuk. Kita bahkan menciptakan sesi malam, kamu menamainya sesi curhat. Di mana kita bisa cerita tentang apapun tentang masalah hati, atau persoalan pelik lainnya.

Aku yang lebih sering cerita, dengan tokoh-tokoh yang selalu berganti. Tapi kamu masih saja dengan dia yang memiliki perbedaan, namun selalu kamu syukuri. Kamu juga dengan telingamu yang selalu setia menemaniku, tangis, tawa, haru kita mengalaminya, walau mungkin kini terlupa.

ef, entah akan aku apakan bila kesempatan ketiga Tuhan berikan. Yang aku yakini, aku tak akan lagi mengulangi kebodohan yang sama. Menyia-nyiakanmu.

Aku tahu, bahagia sekarang sedang mengiringimu, dengan dia gadismu. ef, walau keinginan memilikimu melebihi apapun, namun melihatmu bahagia adalah kebahagiaanku juga. Naïf? Memang. Lalu aku harus bagaimana? Bahkan dulu aku yang dengan sadar melewatkanmu.

ef, tak ada tulisan yang tak memiliki tujuan, aku menyelipkan tujuan di antara susunan kata yang kususun tak rapi ini. Rindu, ya aku merindukanmu, aku rindu tawa yang dulu kita kuasai, rindu tangis yang mewarnai. Tapi tak lucu bila kutulis kata rindu di ruang yang luas, di antara kenangan yang megah. Aku mengembalikanmu pada ingatan yang mungkin terlupakan. ef, rindu ini selalu punyamu, hati ini selalu rumahmu. Walau tak mungkin mengharapkanmu kembali, setidaknya kau hadir untuk membaca kisah ini.

Aku, yang merindukanmu.

Rustin…   

No comments:

Post a Comment