Wednesday, 27 March 2013

paket

Kemarin sebuah surat terlampir untukmu. Entah sampai atau tidak padamu, bukan JNE atau TIKI terlebih lagi POS apalagi DHL yang menyampaikannya. 

Tapi kali ini beda cerita. Ini sebuah cerita tentang paket yang hendak aku kirimkan, tentu saja untukmu. 

Hari ini aku kembali bingung, sungguh hati ingin segera mengirim paket ini. Ingin segera ketenangan di dapatkan, tapi aku kembali dilanda kebimbangan, dengan apa aku harus mengirimnya? 

Aku sempat mendatangi kantor-kantor yang mampu mengirimkan paket katanya. Sebelum mengirimnya, aku sangsi terhadap bungkusan yang orang berikan pada penjaganya. Apa yang harus aku bungkus? Bagaimana aku mampu membungkusnya? Bentuknya pun tak mampu aku lihat. 

Tidur dengan porsi waktu yang kurang, buatku seperti tidur berjalan seharian. Mata yang tak menutup tapi jiwa sungguh kalut. Kantuk tertahan, aku harus sampai tujuan. 

Di sebuah jalan, di seberang sebuah Asrama Polisi di kota ini. Aku menatap sebuah rumah. Sekitar tujuh tahun lalu, kali pertama aku ingat rumah itu berhiaskan pohon di depannya, namun kini tak lagi aku lihat pohon yang harusnya sudah tua. Aku melihatnya lamat-lamat, benar atau tidak itu rumah yang aku cari. Tak ada orang yang terlihat di luar rumah itu. Rumah itu masih sepi seperti tujuh tahun yang lalu. 

Tak lama aku memberhentikan sebuah angkutan umum dengan rute Kotabumi-Kalideres. Aku duduk di belakang sopir, seraya menatap rumah yang telah hilang dari balik tikungan jalan ini. 

Ini masih kisah tentangmu, ef. Aku baru saja dari rumahmu -walau dari seberang jalan aku menatapnya- yang tanpa kau ketahui aku secara berkala mengunjunginya. Tak kuduga, ini sudah benar-benar tua. Pohon itu saja telah hilang. 

ef, kunjunganku bukan untuk memata-mataimu, hanya sekadar menyetorkan rindu yang telah tua. Rindu yang selama ini bertahan di sela ruang hati terdalam. Mungkin tak bisa diterima lagi, tak ada ruang dalam hatimu yang kosong, namun biarkan saja dia duduk menunggu di pelatarannya seperti biasa. 

Rindu ini telah tua, dia sanggup bertahan tahunan. Aku yakin untuk beberapa waktu, ia masih kuat duduk di pelataran hatimu. 

ef, aku pulang. Mungkin pekan depan aku kembali datang, menyetorkan rindu yang telah tumbuh lagi. 

ef, apa sudah kau terima paketku?

No comments:

Post a Comment