Friday, 16 August 2013

another post about, R

Masih dalam menunggu, menunggu waktu berhenti atau menunggu kamu kembali, dua-duanya memiliki kemungkinan yang sama, yaitu kemungkinan menyakitkan selalu ada. Hampir dua hari, kamu tak lagi mengirimkan pesan yang berisikan kerinduan berbumbu cinta. Namun, aku selalu menunggumu, tahukah? 

Entah ada di ujung dunia bagian mana tempatmu kini berada, tapi, doa senantiasa aku lantunkan. Tak peduli kamu ingin mendengar atau tidak. 

Sayang, sudahkah makan hari ini? 
Sudahkah shalat? 
Sudahkah kamu rindu padaku?
Dan sudahkah ingin kembali?

Apakah kamu benar akan kembali? Menemukan jalan pulang layaknya kamu menemukan jalan pergi? Aku hanya berharap kamu tak tersesat. Di sini, di tempat kamu meninggalkanku, aku menunggumu, menunggu masih dengan apa yang pernah kutawarkan dulu. Masih dengan harapan, kebahagiaan, cinta, ditambah kesedihan yang masih kurasakan. 

Cepatlah pulang, berikan alasan agarku mampu meyakini kamu adalah alasan mengapa kebahagiaan ada di dunia. 

rustin-

Wednesday, 14 August 2013

Dearest, R

Menunggu, apa ada hal lain yang mampu kulakukan selain itu? Sayangnya tidak.
Hampir setengah hari aku menunggunya, menunggu delivery report atas pesan yang kukirimkan padanya. Sudah hampir sembilan jam aku menunggunya, entah berapa jam lagi aku harus merasakan rasa gelisah, takut, dan rasa hampir kehilangan ini. Aku harap dia punya alasan yang mampu mengubur rasa kecewa ini semuanya.
R, entah apa maksud dari semua ini, bila saja kau ingin kupergi katakanlah. Apa aku pernah menolak permintaanmu?
Sembilan jam ini aku melakukan hal yang kubosan di hari yang sama. Meneleponmu, meninggalkan pesan. Meneleponmu, disambut operator. Mengirimkanmu pesan, tak juga ada yang terkirim. Semua berulang dan kuulang dengan sabar. Menunggu salah satu terkirim atau menunggu kabar darimu. Apa ada hal yang lebih menyakitkan dari ini?
Aku pikir cinta itu menyenangkan, membuat hatiku senang, dan selalu senyum yang ditawarkan. Oh, aku tak memikirkan resiko dari rindu, rindu yang kini menghukumku dan tak pernah membantuku untuk pindah dari luka hari ini.
Apa aku telah kehilanganmu? Entahlah, mungkin akan kudapatkan jawaban itu beberapa jam ke depan. Aku harap kamu mampu merasakan apa yang tengah kurasakan hari ini.
I Miss You So Much, R.



rustin-

Sunday, 11 August 2013

melupakan, melepaskan, meniadakan

Tiga kata yang saling berkaitan dan sedang kukaitkan. Menatap laki-laki yang ada di hadapanku, tak peduli betapa rasa ini sedang buncah. Aku segera menghapusnya dengan air mata sisa kemarin. Laki-laki yang sudah hilang rasa harap, kini hanya menatap lurus jalan hidupnya, tanpa rencana apapun. Sedang aku, berdiri mendampinginya, sesekali memegang erat jemarinya yang hampir kaku, tapi tak juga dipedulikan olehnya. Ia bisa sendiri, menghadapi semuanya sendirian, tanpa teman, tanpa aku. 

Tiap malam aku menimbang sebuah rencana dan kenangan bersamanya. Terlalu berat rencana ini, ia menang telak. Tak ada kenangan yang mampu membuatnya sebanding. Rencana ini menjulang di atas, sedangkan kenangan turun, tak lagi ada sisa. Ternyata, selama ini laki-laki itu hanya menciptakan luka yang mungkin baru saja aku sadari. 

Membuatmu pernah berarti dalam hidupku, menjadikanmu raja dalam mimpiku, dan membanggakanmu di setiap pasang mata, tak cukup membuatmu melambungkan terima kasih. Cinta membuatmu tinggi, membuatmu merasa semakin dibutuhkan. Padahal, bukankah cinta harus ada kata saling? Tapi kamu melakukannya seorang diri. 

Sebuah hal yang selama ini selalu diragukan. Mencintai membuat kita semakin sulit untuk melepaskan terlebih lagi melupakan. Meniadakan kisah yang lalu menjadi kenangan. Terbiasa dengan tawa dan duka yang disulap menjadi kebahagiaan yang senantiasa diyakini sebagai pendukung dari kelanggengan sebuah hubungan. Aku lelah dan terlalu lelah akan kisah yang selalu kamu sebagai tokohnya. Kali ini, aku mundur, menatapmu sebagai sebuah kenangan, hiasan yang pernah kupegang, dan kini kubiarkan menjadi pajangan yang tak lagi ingin kutatap dalam. 

Berakhir kata terakhir untukmu...