Wednesday, 30 October 2013

alinea - summer

bahagia.

entah dengan cara apa saya mampu melukiskan kebahagiaan, entah di langit, di rumah atau di kehidupan. saya hanya mampu melukiskannya di dalam pikiran. sesuatu yang sempat membuat wajah saya tak henti tersenyum bahkan terasa panas karena rona merah yang mulai bersemu di pipi. sampai saat ini. 

entah lakilaki jenis apa, dengan cepat ia mampu menggetarkan hati hingga kaki tak mampu berdiri. jatuh... cinta. 

saya jatuh, cinta. padanya lakilaki yang begitu saya puja. 

namanya "summer".
tiap malam saya merindukannya, awalnya saya duga seperti itu, tapi ternyata tiap waktu. tak peduli itu siang, atau pagi. 

tibatiba waktu berhenti. membuat saya hanya mengenal kata rindu dan cinta. 

waktu saya menjadi begitu padat. tawa dan canda senantiasa kita tukar bersama. siapa yang mau melewatkan kebahagiaan ini? dengan doa yang terus mengalir dan aamiin atas semua yang terpanjatkan. kepadatan yang membahagiakan bukan? tentu! saya bersyukur atas itu. 

baru kali ini saya mendapatkan kado sebesar ini. membuat saya bingung menaruhnya di mana. saya biarkan orangorang bergantian untuk berpandangan, menunjukkannya pada khalayak ramai, agar semua mampu melihat, bahwa saya sangat bahagia dengan hadiah seperti ini. 

summer, keberuntunganmu beralih kepada saya. saya seberuntung kamu. saya jatuh... cinta padamu. 


-alinea-

Saturday, 19 October 2013

Asumsi

Saya selalu bertanya siapa saya. Bahkan saya sendiri pun sulit untuk menjawabnya. Saya belum memahami siapa saya sebenarnya. Lalu apa yang dilakukan orang-orang di luaran yang selalu riuh bilang ini itu perihal saya? Entah siapa mereka? Apakah ia hati saya? Atau bahkan otak saya. Mampu menebak, menerka, dan membenarkan tentang apa yang telah mereka katakan. 

Sampai saat ini banyak sekali orang-orang yang 'lebih tahu' saya dibanding saya sendiri. Lalu, apa yang saya mampu lakukan?

Tertawa.

Perihal jatuh cinta, saya lebih bingung. Tidak ada yang mampu saya perbuat. Mengendalikan hati saya? Sulit. Saya hanya mampu menunggunya sampai rasa itu menerjemahkan sendiri.
Saya mudah jatuh cinta? Tidak. Jatuh cinta pun saya tidak tahu apa maksudnya. Saya gadis kecil yang masih mencari siapa cinta, apa cinta, dan untuk apa cinta.

Lalu?

Saya masih mencari.

Hidup perihal pencarian, tapi bukan untuk orang lain. Pencarian atas apa yang memang sedang saya cari. Dan untuk apa yang mereka cari, itu bukan lagi hal yang ingin saya ketahui. Sedikitpun.

Hidup saya cukup untuk saya. Selama saya mampu bertanggung jawab atas apa yang saya perbuat kepada Tuhan dan keluarga. Itu sudah cukup. 

Tuesday, 8 October 2013

5 okt '13

Sebelum lebih jauh memulai menulis cerita ini, saya ingin berteriak...
Aaaakkkk!!!! 
Akhirnya. 

Ya, akhirnya. Setelah empat tahun pulang pergi ke kampus, setelah ratusan hari pulang malam dan berangkat terlalu dini, saya mampu menyelesaikan semuanya tepat hari ini, Sabtu 5 Oktober 2013. 

Awalnya semua di luar rencana. Tak pernah menyangka saya harus wisuda hari ini seorang diri dari kelas saya. 

Iya, nama saya mewakili seluruh kelas. Tidak ada nama teman-teman saya yang lain, yang biasa bersama saat belajar selama empat tahun. Tidak ada yang bisa saya ajak berdiskusi perihal baju kebaya, sepatu, hijab, atau bahkan sekadar diskusi pukul berapa kita akan sampai sana saat GR ataupun wisuda. 

Dengan 1203 peserta wisuda yang lain, kami duduk dengan tenang di gedung sasono utomo, TMII. Acara dimulai pukul 8 pagi. Saya terpisah dengan bapak -orang tua sebagai undangan- dari tempat duduk yang hampir di belakang, acara yang begitu saya tunggu adalah pelantikan. Di acara itu, saya akan resmi menyandang gelar yang begitu saya nantikan.