Tuesday, 8 October 2013

5 okt '13

Sebelum lebih jauh memulai menulis cerita ini, saya ingin berteriak...
Aaaakkkk!!!! 
Akhirnya. 

Ya, akhirnya. Setelah empat tahun pulang pergi ke kampus, setelah ratusan hari pulang malam dan berangkat terlalu dini, saya mampu menyelesaikan semuanya tepat hari ini, Sabtu 5 Oktober 2013. 

Awalnya semua di luar rencana. Tak pernah menyangka saya harus wisuda hari ini seorang diri dari kelas saya. 

Iya, nama saya mewakili seluruh kelas. Tidak ada nama teman-teman saya yang lain, yang biasa bersama saat belajar selama empat tahun. Tidak ada yang bisa saya ajak berdiskusi perihal baju kebaya, sepatu, hijab, atau bahkan sekadar diskusi pukul berapa kita akan sampai sana saat GR ataupun wisuda. 

Dengan 1203 peserta wisuda yang lain, kami duduk dengan tenang di gedung sasono utomo, TMII. Acara dimulai pukul 8 pagi. Saya terpisah dengan bapak -orang tua sebagai undangan- dari tempat duduk yang hampir di belakang, acara yang begitu saya tunggu adalah pelantikan. Di acara itu, saya akan resmi menyandang gelar yang begitu saya nantikan. 


Setelah acara pelantikan, lalu menyanyikan Mars PGRI oleh paduan suara, acara selanjutnya adalah penyerahan penghargaan untuk wisudawan terbaik di setiap program studinya. 

Ini yang lebih membuat jantung saya dag dig dug. Saya tidak mau berharap sedikitpun. Namun, di relung hati saya yang paling dalam, saya tidak ingin mengecewakan bapak saya khususnya. 

Suatu hari ketika saya lulus sekolah dasar, di sekolah tempat saya menuntut ilmu mengadakan acara perpisahan sekolah. Sebelum acara itu berakhir, saatnya guru memberikan penghargaan kepada peringkat 1-3 dari setiap kelas. Saat itu bapak saya yang menghadiri acara tersebut, bukan hanya bapak saya yang memiliki harapan meraihnya, tapi juga saya. 
Tapi sayang, bukan saya peraih peringkat 1-3. Apa yang selanjutnya bapak saya lakukan? Bapak saya langsung meninggalkan ruangan acara, dari raut wajahnya terlihat kecewa. Ya, saya telah mengecewakan beliau. Sejak saat itulah, saya selalu berusaha yang terbaik, saya tidak ingin beliau merasakan kecewa (lagi).

Ternyata Allah SWT mendengar doa orang tua saya, doa saya, doa seluruh keluarga, dan doa sahabat-sahabat saya. Penghargaan itu dan apapun yang telah saya raih kini, semua tetap saya dedikasikan untuk orang tua dan keluarga saya. Saya ingin melihat mereka selalu tersenyum dan bangga terhadap apa yang saya raih. 

Saat nama saya dipanggil untuk menerima penghargaan tersebut, ada rasa haru, ada rasa syukur yang dalam, di tengah tepuk tangan yang riuh dan pandangan ribuan mata, dalam hati saya mengucap syukur dan menggumam "Pak, ini untuk bapak. Ini untuk menebus rasa kecewa bapak tahunan yang lalu." 

Tepuk tangan dan ucapan selamat tidak berhenti di sana, setelah duduk, pelukan hangat, jabatan tangan, dan puluhan pesan singkat.

Saya tidak akan pernah bisa meraihnya tanpa kalian, tanpa dukungan, tanpa hujatan, tanpa doa, dan tanpa peran serta kalian. Tanpa orang tua, keluarga, sahabat, dosen, supir bus, mas-mas penjaga minuman yang saya beli tiap hari, dan tanpa supir angkot. Tanpa kalian, saya tidak bisa menjalani hari. 

Terima kasih atas semua yang telah kalian berikan. 


No comments:

Post a Comment