Thursday, 12 December 2013

Belajar Cinta

Cinta hanya berupa rangkaian lima kata. Masalah apa maksudnya, rasanya semua manusia mampu mengartikannya masing-masing. Banyak yang juga bilang, cinta itu takarannya hati. Lalu, kalau begitu siapa mampu mengurai isi hati manusia?

Saya masih belum paham konsep cinta itu apa. Ada yang bilang, cinta itu tak seperti ilmu eksak. Tanpa perhitungan. Semua kembali ke hati (ya, lagi-lagi saya menemui kata hati di pendapat seseorang itu).

Seseorang yang lain berkata pada saya di suatu hari yang berbeda, katanya cinta itu dapat tumbuh walau tanpa sebab. Tanpa alasan. Tak seperti pohon yang hanya mampu tumbuh bila ada biji atau bibit yang ditanam atau tertanam dan mampu tumbuh bila ada pupuk, air, dan matahari yang menghidupinya. Cinta bukan seperti itu.

Saya hampir menyetujui sebuah pandangan yang saya terima kala itu. Tapi, tiba-tiba sesuatu terlintas dipikiran saya, saat sebuah dialog di sebuah ftv antara pasangan muda -yang saya lupa apa judulnya- terucap. "Kalau cinta, harus saling percaya. Harus juga mampu menerima satu sama lain..."

Tidak, percakapan itu tidak sampai sana. Saya memotongnya karena cukup sampai situ saja, telah mengganggu pikiran saya. Ya, kalau cinta mampu hidup tanpa alasan, tanpa sebab ataupun tanpa karena. Lalu di mana logikanya, bila kata 'harus' -dalam dialog di atas- tidak dikatakan sebagai alasan, sebab atau karena?

Apa benar cinta mampu hidup tanpa sebuah perhitungan? Tanpa sebuah rumus yang sebenarnya memiliki konsep kesamaan dari setiap pasangan yang meyakini cinta itu ada di bagian diri mereka? Dan apa cinta benar-benar tanpa alasan?

Kalau hati mampu dijadikan ukuran, maka sebenarnya cinta tak mampu diukur ke dalamannya, bukan? Siapa yang mampu mengukur dalamnya hati?

Alinea_tyn

No comments:

Post a Comment