Tuesday, 1 April 2014

Surat Untuk Mantan

Tangerang, 1 April 2014
Untuk: kamu (mantanku)

Apa kabar, kamu?
Masih ingatkah tentang aku? Tentang kita?
Atau kamu sudah lupa?

Tapi apakah kamu ingat;
Tentang ritual-ritual yang senantiasa kita lakukan.
Tentang ucapan selamat tidur yang setiap malam tak bosan kamu katakan;
“Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah, tetap sayang aku. Aku sayang kamu. Love you.”
Lalu, saling terdiam hingga aku mendengar dengkur halus dari ujung telepon, kemudian aku pun membiarkan telepon tetap menyala hingga mata tak kuasa untuk ikut terlelap.

Tiap pagi, salah satu dari kita berebut untuk menyapa terlebih dulu;
“Selamat pagi sayang, jangan lupa sarapan ya. Hati-hati di jalan. Love you.”
Sebuah pesan yang mampu menciptakan senyuman sampai malam siap merengkuh.

Saat siang menjelang, sebuah pesan singkat berisi ucapan selamat makan siang atau pun sebuah pengingat untuk tidak lupa shalat juga mampu membuatku semakin semangat untuk menjalani hari.
“Selamat makan siang, jangan lupa shalat. Love you.”

Tiap hari aku tak lagi takut berhadapan dengan pagi. Bahkan, aku ingin cepat mengulang segala rutinitas yang mampu menjadi suplemen untuk hariku. Tiap malam, aku siap untuk tidur tepat waktu, untuk mendengar dengkuran yang kujadikan senandung tidur, lalu tersenyum saat kamu ucapkan ucapan selamat tidur. Aku telah mimpi indah bahkan sebelum mata ini terpejam rapat.

Apa aku berlebihan? Untuk merindukanmu yang baru saja menghilang?
Tentang cita dan cinta yang baru saja terjalin dua bulan dan kehilangan yang belum genap dua pekan.

Aku masih merindukan setiap tawa yang keluar dari bibir manismu.
Aku masih merindukan setiap panggilan sayang yang selalu mengawali setiap percakapan.
Tapi semua tiada guna lagi, membuatmu tetap bertahan untuk melanjutkan asa yang belum terwujud, kini hanyalah impian dan aku pun harus rela untuk menjadikan kamu sebatas kenangan.
Aku ingat, tiga hari setelah perayaan ulang tahunku, malam itu di telepon terakhir kita, dengan suara parau kamu mengatakan hal yang tak pernah ingin aku dengar, “mungkin Tuhan belum ijinkan kita bersama, tapi percayalah kalau memang jodoh kita pasti kembali dipertemukan. Sekarang kita hanya perlu mengembalikan semuanya kepada-Nya.”
Telepon itu pun lalu ditutup, mengiringi air mata yang menetes di pipiku.
Itu air mata pertama untukmu, tapi ternyata ini air mata perpisahan.
Mungkin kata rindu tak lagi dapat aku ucapkan, tapi semoga surat ini mampu mewakilkan kata rindu untukmu.

nb: semoga kamu membacanya sebelum rindu habis dimakan waktu


rustin-


*tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara*

1 comment: