Friday, 2 May 2014

RISALAH (KEMBALI ATAU BERHENTI)

Berawal dari kami yang tak saling mengenal satu sama lain. Memiliki visi yang sama. Membangun lingkungan, menghidupkan remaja ke arah yang lebih islami, menyadarkan arti kebersamaan. Risalah berdiri pada tahun 2009, pada saat itu kami mengikrarkan tanggal 20 Mei sebagai awal berdirinya RISALAH.
Saya ingat waktu itu, sebelum pembukaan pengajian, kami berkumpul sore hari di mushola Assalam guna mencari nama yang tepat. Ada beberapa pilihan. Namun kami memilih RISALAH, yang merupakan singkatan dari Remaja Islam Al Mubahah Assalam.
Arti Al Mubahah sendiri adalah sebuah kebanggan. Saat itu satu per satu dari kami, meng-aamiin-kan, semoga kelak RISALAH dapat menjadi kebanggan untuk kami, keluarga, masyarakat, dan agama. Sebuah cita-cita masih tersemat di balik nama RISALAH.
Berdirinya RISALAH mendapat sambutan hangat, dukungan dari berbagai pihak. Sampai kami terlena, ada banyak yang tidak kami ketahui, ada banyak yang harus kami pelajari sebelum berlari. Kami jatuh, tumbang, setelah perayaan isra mi'raj di tahun yang sama. Acara yang cukup dapat sambutan hangat ternyata masih jauh dari kesempurnaan. Koreksi dari berbagai pihak.
Kami lengah saat itu, ikatan kebersamaan kami diuji, ternyata tak sekuat yang kami kira. Setelah itu kami kembali berkumpul. Membicarakan tentang kelangsungan RISALAH yang sempat tergoncang, yang sempat diam di tempat. Kesalahan yang saya iyakan, dengan kesadaran saya mewakili pengurus RISALAH lainnya, meniggalkan seseorang yang sebenarnya memiliki peran penting saat mengumpulkan kami hingga akhirnya kami membentuk RISALAH, dengan alasan kami tidak satu visi lagi. Sejak saat itu kami menjauh dengan orang yang sangat berjasa itu.
Entah apa yang sebenarnya ada dalam otak kami. Beberapa bulan berjalan sesuai rencana, walau tidak semua keinginan dapat kami wujudkan dengan mudah. Saat itu kami tidak menyadari, seseorang yang berjasa itu ternyata kutub RISALAH. Ia yang menstabilkan kondisi internal RISALAH, yang menggerakkan segala kegiatan RISALAH. Kami salah lagi.
Andai waktu dapat terulang, mungkin kami akan memperkecil kemungkinan-kemungkinan kesalahan tersebut. Tapi inilah hidup, kita hanya perlu mensyukurinya. Semua tetaplah keberkahan dari Sang Maha Pemilik Kehidupan.
Setelah adanya perpisahan tersebut, kami kembali membangun RISALAH, dengan ego yang masih menggebu, kami mencari tanggal yang tepat untuk kembali mengikrarkan RISALAH, yaitu tepat tanggal 2 Mei 2010.
Sebuah cita kembali tersemat, semoga semangat pendidikan mengaliri di setiap napas seluruh anggota RISALAH. Kami mencoba menjaga satu sama lain, mencari cara agar kami tetap 'diminati'. Menumbuhkan kebutuhan rohani di setiap anggota RISALAH. Tapi, kami tidak menemukan rencana lain, kami hanya fokus dengan bagaimana caranya agar banyak yang hadir, tapi kami tidak belajar bagaimana mempertahankan. Saya khilaf.
Tanggung jawab itu seharusnya ada pada saya, tetap mendekatkan yang jauh dan mempererat yang dekat. Tapi saya hanya fokus untuk mencari dan mencari anggota lain. Hingga akhirnya, di minggu-minggu terakhir sebelum RISALAH tertidur, hanya sekitar 6-7 orang yang hadir.
Kami tetap mencari jalan keluar, meminta dukungan dari orang tua, agar anak-anaknya diimbau untuk hadir di mushola bahkan sampai undangan yang kami sebar setiap pengajian berlangsung. Tapi itu tidak bertahan lama. RISALAH akhirnya tertidur.
Hari ini, tanggal 2 Mei, saya tidak tahu, apakah teman-teman seperjuangan masih ingat ini juga hari jadi RISALAH? Sebuah tempat yang kami titipkan cita dan harapan? Apakah masih ingat atas hari-hari yang sempat kami lalui bersama.
RISALAH mungkin tertidur, tapi bukan berarti itu sebuah kegagalan. RISALAH telah melalui hari-hari yang hebat dengan orang-orang yang hebat. Terima kasih atas seluruh pengorbanan, upaya, semangat, doa, cinta, sayang, kebersamaan, yang senantiasa kita eratkan satu sama lain.
Selamat ulang tahun, RISALAH, selamat ulang tahun kawan-kawan.. mari kita angkat gelas sekaai lagi, lanjutkan perjuangan? Sudah cukup untuk tidurnya yang telah cukup panjang... hitungan bulan, bahkan microphone mushola, rawi di mushola, telah rindu disapa.
Teman-temanku, mungkinkah kita menyerah di saat cobaan hari ini tidak seberat hari-hari lalu yang telah dilalui RISALAH? Apa sudah lelah? Relakah kita menidurkan RISALAH dan tak lagi membangunkannya? Atau kita hanya perlu memahami kata 'sudah'? 
Saya rindu kalian, rindu RISALAH. Tapi, bila esok tidak ada lagi untuk bersama, ijinkan saya mengucap terima kasih kepada kalian satu per satu yang telah menjadi keluarga besar RISALAH;
Terima kasih yang tidak terhingga untuk, om deden, om dayat, om rohli, om heri, eka syaputra, budi santoso, laely masy'udah, adji bayu irawan, yuyun yunani, sri wahyuni, silmi azizah, imalludin, nanang subandi, emy, neneng, renny, desi (indri), anis, heriyansah, fadli, hafiz, sinta geovani, dian pangestu utami, ayu, ayi, pepen, alfi, rina, reza, dan seluruh anggota RISALAH yang (maaf) alpa disebut. Tapi tidak mengurangi rasa terima kasih saya kepada kalian. Kalian adalah jiwa RISALAH.
Terima kasih telah menghidupkan RISALAH, telah menjadi denyut RISALAH.
Terima kasih kepada seluruh pengajian di sekitar lingkungan Batusari, Tangerang yang telah membagi kebersamaan bersama kami.

Rustin ♡

1 comment: