Tuesday, 25 November 2014

Wednesday, 19 November 2014

aku, keraguan, dan harapan

November.
Apa perlu kuyakinkan ini perihal kebenaran? Bukan hanya sekadar kebetulan.
Ada air yang menggantung di pelupuk mata, mewakili ragu, mewakili segenap tanya yang menyesaki rongga dada.
Antara nyata atau tidak, harusnya aku tahu kamu setia.
Harusnya aku yakin kamu selalu mencinta.
Otak dan hati ini harusnya bersekutu, percaya kamu senantiasa merapal namaku dalam setiap doa.

Aku menatap cangkir kopi yang telah kosong di hadapanku, kamu tahu betul aku harusnya tak meminumnya. Kamu tahu betul aku akan memaksakan organ tubuhku untuk bekerja tanpa henti bila semua mengganggu otakku. Kamu tahu betul tidak semua aku keluhkan ke kamu. Iya, masih ada rentetan pertanyaan yang belum terjawab, baik tentang kita juga tentang hidup.

Mengapa rasa ini tak hanya memenuhi hati? Mengapa otakku turut sesak dibuatnya? Membuatku lupa kalau ternyata aku harus bernapas.

Beberapa kali aku menyakinkan hati dan otakku untuk berdamai, percaya satu sama lain atas semua kebaikan yang muncul. Atas doa-doa yang telah diijabah. Atas segala harapan yang telah mampu kugenggam. Apalagi yang kurang?

Ah, ini harusnya bukan masalah.
Ini bukanlah keraguan? Iya, kan?
Hanya sebuah ketakutan akan kegagalan bagai masa semu yang lalu itu.

Bisakah kita berhenti sejenak?
Untuk saling tatap?
Untuk saling peluk?
Untuk saling menggenggam erat?
Dan membunuh ketakutan.
Hingga buatnya tidak berdaya. Hingga tak lagi ada air mata ketakutan bahkan keraguan.
Air mata ini hanya harus menetes saat aku bahagia,
Saat aku tahu kamulah penantianku
Saat aku tahu kamulah satu
Terakhir dalam hidup juga doa.

Apakah ini sebuah pengharapan besar?